Showing posts with label foss. Show all posts
Showing posts with label foss. Show all posts

Monday, January 31, 2011

Dosa-dosa TIK oleh Bangsa Indonesia

Dosa-dosa TIK oleh (sebagian) Bangsa Indonesia... Sebuah Introspeksi...

Mengapa bangsa Indonesia sering ditimpa bencana atau musibah? Di bawah ini hanya tiga dari banyak kemungkinan penyebabnya. NB: "dosa-dosa" merupakan kata pengganti untuk perbuatan aniaya atau yang merugikan orang lain.
  1. Mengaku punya Tuhan, tapi mendurhakainya. Tuhan yang Maha Adil melarang manusia mengambil hak orang lain secara tidak adil. Tapi, banyak manusia melawan pedoman itu, misalnya mengambil hak cipta orang lain di bidang software, khususnya yang "berpemilik" atau proprietary.
  2. Membuat aturan, tapi melanggarnya. Pemerintah bersama DPR telah menetapkan UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta. Tapi, berapa juta orang yang melanggar UU ini?
  3. Membuat janji, tapi mengingkarinya. Betapa banyak (meskipun tidak semuanya) pejabat pemerintah dan anggota DPR/DPRD yang telah berjanji/bersumpah saat diangkat dalam jabatannya, tapi tidak menepatinya. Padahal, semua pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa saja yang dipimpinnya, termasuk memastikan semua software di kantornya harus legal. Pemimpin yang baik pasti tidak memboroskan uang rakyat dengan membeli software yang mahal, sementara banyak rakyatnya menderita kemiskinan dan kebodohan, bahkan ada yang mati karena kelaparan (kurang gizi).

Saya yakin banyak di antara kita yang menyadari "dosa-dosa" itu, dan melakukan sesuatu untuk memperbaikinya, meskipun kecil. Misalnya kita lebih memilih Linux dan FOSS (Free/Open Source Software) daripada menggunakan software proprietary. Bahkan telah banyak pula saudara kita yang berkarya tanpa mengharap imbalan harta semata, apalagi tahta, seperti para pengembang (urut abjad) BlankOn, Cimande, DSP (Daun Salam), eNdonesia, IGN, KG (Guyub), Nawala, Senayan, Simpin, Sisfokampus, Sisfokol, Voip Rakyat, Zencafe, dan lain sebagainya. Akan sangat panjang kalau semua karya anak negeri saya tulis di sini.

Jika Anda mau memahami tulisan ini, saya lebih yakin lagi "dosa-dosa" itu segera menjadi masa lalu kita. Karena saya dan Anda adalah bagian dari bangsa Indonesia, yang berketuhanan Yang Maha Esa, yang berperikemanusiaan yang adil dan beradab, yang bersatu, yang demokratis, sehingga menjadi bangsa yang seluruh rakyatnya bisa menikmati keadilan sosial dan kesejahteraan hidup di dunia hingga akhirat.

Apa buktinya kita faham dan sadar? Mulai sekarang juga, meskipun dari yang sederhana, kita pakai Linux/FOSS dalam segenap sendi kehidupan TIK kita. Jika ada yang belum mampu karena sangat terpaksa, misalnya jiwa kita terancam kalau tidak menggunakan software proprietary tertentu, hati kita tetap membenci "dosa-dosa" itu. Merdeka! :-)

Friday, January 28, 2011

Russian Goes Open Source

Russian Goes Open Source ...

Russian tidak ada hubungan dengan Rusmanto :-)
Ini cerita akhir tahun lalu, tapi saya angkat sekarang setelah minggu ini saya dapat info dari teman-teman di pemerintah Indonesia bahwa pelaksanaan legalisasi software pemerintah dan IGOS (Indonesia, Go Open Source!) masih jauh dari harapan. Mungkin perlu "perintah" dari presiden seperti yang dilakukan Rusia.

Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin telah menandatangani perintah untuk mengalihkan sistem komputer pemerintah Rusia ke Open Source dalam waktu empat tahun.
  1. Kuartal ketiga 2011 ini pemerintah harus sudah menetapkan format data yang didukung oleh perangkat lunak open source yang digunakan dalam pemerintahan.
  2. Kuartal kedua 2012, pemerintah harus mulai memperkenalkan perangkat lunak bebas (Free/Open Source Software) di bagian pemerintahan yang ditunjuk sebagai percontohan. Pada saat yang sama, harus ada semacam Pusat Open Source Software (POSS) di kementerian dan LPNK (lembaga pemerintah pusat non kementerian) yang antara lain bertugas mendownload FOSS dan mengelola menjadi semacam smartphone-style app store -- tidak seperti respositori Linux biasa -- agar lebih memudahkan pengguna awam.
  3. Kuartal ketiga 2014, semua lembaga pemerintah termasuk yang berkaitan dengan fiskal (pajak, bea cukai, dan yang berurusan dengan penerimaan negara lainnya) harus sudah benar-benar beralih ke open source secara menyeluruh.
  • CATATAN terkait nomor 3: Saat ini software yang disediakan pemerintah Indonesia untuk urusan pajak dan bea cukai, juga untuk kegiatan perencanaan dan pelaporan anggaran (RKAKL) masih mengharuskan pakai Windows. Akibatnya kita semua tahu, sebagian besar Windows yang digunakan di Indonesia tidak legal alias bajakan. Pantas saja banyak "gayus" di Indonesia. :-(

Semoga pemerintah Indonesia bisa belajar dari Rusia, karena Rusia sudah belajar dari Indonesia bahwa migrasi ke Open Source itu tidak mudah tanpa perintah langsung sang presiden atau RI-1. :-)

Sumber tulisan tentang Russian Goes Open Source ada di: http://tech.blorge.com/Structure:%20/2010/12/29/russian-government-goes-open-source/

Wednesday, December 29, 2010

Jika hari gini tidak ada FOSS, Apa Jadinya?

Jika hari gini tidak ada FOSS, Apa Jadinya?
Sebagai renungan akhir tahun 2010, mensyukuri nikmat, dan menyambut 2011.
  • Biaya jasa TIK seperti akses internet menjadi sangat mahal, karena dengan kondisi saat ini semua bisnis terkait internet sudah menggunakan FOSS, biaya akses internet masih mahal bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Juga jasa TIK lainnya.
  • Akses ke Facebook, Twitter, Google dan lain-lain menjadi berbayar mahal, sehingga kita semua akan putus hubungan dengan semua teman baik kita di internet, karena semua aplikasi internet itu dibangun dengan produk-produk berbasis FOSS yang tidak perlu biaya izin untuk menggunakannya seperti Linux, Apache, PHP, Java, Python, MySQL, dll.
  • Harga barang TIK (komputer, hp, router, access point, dan alat TIK lainnya) menjadi sangat mahal, sehingga tidak terjangkau oleh pemerintah, perusahaan, pendidikan, apalagi masyarakat umum seperti saya dan Anda, karena biaya izin sistem operasi dan office saja lebih dari dua juta rupiah per satuan barang, belum program-program lainnya. Secara negara harus keluar devisa ratusan trilyun rupiah untuk menjalankan semua komputernya secara legal dan halal.
  • Akhirnya TIK menjadi tidak terjangkau oleh kita, dan kita kembali ke masa sebelum 1990. Kasihan bagi Anda yang lahir di era internet, karena tidak dapat membayangkan apa kata dunia tanpa internet...hehehe.
Semoga ini menyadarkan kita, bahwa Linux dan FOSS lainnya telah membuat hidup kita lebih indah dan bermanfaat dunia-akhirat. Mari kita bersyukur, terima kasih kepada Tuhan, yang telah membuat Linux dan FOSS terus berkembang. Dan kita mohon kepada Tuhan agar hidup kita di 2011 lebih bermanfaat bagi orang lain, salah satunya dengan berbagi Linux/FOSS.

Wednesday, September 29, 2010

Menyambut Temu Komunitas Linux Indonesia

Menyambut Temu Komunitas Linux Indonesia

Komunitas Linux Indonesia setiap tahun sejak 2006 menggelar pertemuan darat yang dihadiri perwakilan dari berbagai komunitas Linux di Indonesia sebagai rangkaian acara ILC. Nama acara itu dulunya KPLI Meeting, dan pada 2010 di Bogor ini diubah atau diberi nama kedua sebagai Linux Community Meeting, disingkat LCM. Penyelenggara KPLI Meeting aka LCM itu berpindah dari kota ke kota, dan tidak mustahil bisa berpindah dari desa ke desa.

Komunitas Linux di Indonesia terdiri atas berbagai komunitas pengguna Linux, pengembang Linux, pencinta Linux, pendukung Linux, dan siapa pun yang setuju Linux berkembang di Indonesia. Ada komunitas yang hanya fokus mengelola kolaborasi melalui internet tanpa batas wilayah, yaitu linux.or.id. Ini komunitas yang tetap eksis sejak akhir 1990-an hingga kini. Linux.or.id sangat dibutuhkan komunitas lain, di antaranya karena nama domain linux.or.id digunakan oleh komunitas lain yang menjadi sub domainnya, misalnya aceh.linux.or.id, bandung.linux.or.id, jakarta.linux.or.id, dan lain-lain.

Komunitas Linux di Indonesia tidak seperti organisasi TIK lainnya yang memiliki struktur pusat dan daerah. Semua komunitas Linux yang ada di Indonesia itu sejajar. Penamaan komunitas juga tidak ada aturan baku, misal harus ada kata KPLI (Kelompok Pengguna Linux Indonesia), tapi boleh menggunakan nama lain misalnya GRUB untuk KPLI Bogor, KLAS untuk KPLI Surabaya, dan sebagainya. Komunitas Linux di Indonesia juga tidak harus pakai nama Linux, karena bisa jadi komunitas itu tidak membahas sistem operasi Linux tapi lebih fokus ke bahasa pemrograman yang dapat jalan di Linux, atau komunitas aplikasi yang jalan di Linux, misalnya komunitas PHP, Java, Blender, atau free/open source software lainnya yang jalan di Linux. Tidak menutup kemungkinan, komunitas software proprietary yang jalan di Linux pun bisa bergabung dalam komunitas Linux Indonesia.

Thursday, May 13, 2010

Siapa yang Mendapatkan Manfaat FOSS?

Siapa yang Mendapatkan Manfaat FOSS?

Saya menggunakan aplikasi yang tersedia di http://netcraft.com untuk menjawab pertanyaan iseng di atas. Hasilnya, hampir semua pengguna komputer di Indonesia yang mengakses internet dipastikan mendapat manfaat dari FOSS (Free Software atau Open Source Software), karena mengakses salah satu atau beberapa alamat web ini: google.com, detik.com, mail.yahoo.com, mail.google.com, groups.yahoo.com, groups.google.com, wordpress.com, blogger.com, blogspot.com, youtube.com, wikipedia.org, plurk.com, flicker.com, dll. Semua web itu menggunakan sistem operasi FOSS (sebagian besar Linux dan sebagian kecil FreeBSD). Sayangnya, netcraft.com tidak berhasil mengetahui semua sistem operasi yang digunakan facebook.com, meski sebagian server facebook.com terlihat menggunakan Linux.

Contoh pemanfaatan FOSS melalui internet di atas baru menyebutkan sebagian dari alamat server-server web terkenal, masih banyak web terkenal lainnya yang juga berbasis FOSS. Data itu juga belum mencakup server-server tersembunyi seperti email, DNS, proxy, database, dan program aplikasi server seperti office, cms, e-learning, serta belum memasukkan bahasa pemrograman seperti PHP, Java, Perl, Python, dan lain-lain yang banyak bertebaran di website-website internet. Sayangnya lagi, saya belum punya data berapa pengguna sistem operasi dan aplikasi berbasis FOSS untuk komputer desktop, laptop, netbook, dan telepon genggam di Indonesia. Saya perkirakan ada lebih dari satu juta pengguna komputer memiliki Linux dan aplikasi berbasis FOSS di komputernya. Itu termasuk Anda, bukan? :-)

Sunday, November 29, 2009

Bentuk Support FOSS dan Linux

Tulisan ini menggunakan merek Alfresco, RedHat, CentOS, dan Fedora sebagai contoh atau studi kasus, tidak ada titipan iklan dari produk-produk tersebut. :-)

Meluasnya penggunaan Linux dan FOSS (Free/Open Source Software) lainnya belum menghilangkan kesalahpahaman pengguna atau pengembang TI terhadap FOSS. Salah satu kesalahpahaman itu adalah bentuk support atau dukungan teknis perusahaan FOSS terhadap pengguna. Benarkah produk-produk yang dikembangkan dengan konsep FOSS tidak tersedia supportnya secara komersial? Siapa yang menyediakan support dan adakah perjanjian dengan tingkat layanan atau SLA (Service Level Agreement) tertentu?

Kesalahpahaman tentang support itu bisa terjadi karena kesalahpahaman yang lebih mendasar, yaitu FOSS identik dengan gratis. Padahal, yang dapat dikatakan gratis dari sebuah produk FOSS adalah surat izin atau lisensinya. Software yang dikembangkan dengan konsep FOSS tetap bisa dijual dalam bentuk CD/DVD, paket dengan hardware atau software lain, demikian pula support dan training-nya.

Sekadar contoh, Alfresco merupakan perusahaan FOSS pengembang produk sistem manajemen konten yang menyediakan support secara komersial. Alfresco dirilis dalam dua versi, komunitas dan enterprise. Kedua versi itu tetap FOSS sehingga tersedia source code dan tanpa biaya lisensi. Perusahaan pengguna yang menginginkan support secara komersial dapat memilih Alfresco versi enterprise dengan SLA dua tingkat, Gold dan Platinum. Tentu saja, support komersial yang diberikan secara profesional itu tidak gratis. Pengguna yang tidak butuh support komersial dapat memilih Alfreso versi komunitas.

Contoh lain adalah produk distro Linux enterprise RedHat dan CentOS. Kedua produk itu dikembangkan dengan konsep FOSS, sehingga tersedia source code yang dapat dimodifikasi. Bedanya, distro RedHat dijual dalam bentuk support komersial. Sedangkan CentOS yang dikembangkan dari source code RedHat didistribusikan tanpa support dari RedHat. Demikian pula Fedora yang disponsori RedHat juga tidak disupport oleh RedHat. Namun, perusahaan pengguna CentOS dan Fedora dapat meminta support ke perusahaan lain dalam bentuk komersial dan profesional melalui perjanjian atau SLA tertentu.

Ngomong-ngomong, apa kabar CentOS terbaru yang turunan RedHat itu? Baca dan coba CentOS 5.4 di InfoLINUX 12/2009.

Wednesday, November 18, 2009

Mengapa Anda Mendukung FOSS?

Ini hasil wawancara virtual saya dengan beberapa pelaku bisnis ICT di dunia.

Tanya: Mengapa perusahaan Anda sebagai operator telekomunikasi atau penyedia jasa akses internet mendukung FOSS?
Jawab: Makin banyak orang menggunakan Linux dan FOSS lainnya, pemasukan perusahaan kami naik karena makin banyak orang mendownload software melalui internet. Juga akan makin banyak orang punya komputer dan gadget untuk mengakses internet karena harganya makin murah. Tentu sebagian pengguna FOSS dalam bentuk komputer atau gadget akan mengakses internet melalui perusahaan kami, sehingga keuntungan perusahaan kami meningkat.

Tanya: Mengapa perusahaan Anda sebagai pembuat hardware (prosesor, memory, dan periperal komputer lainnya, server, pc desktop, laptop, netbook, nettop, router, smartphone dan handphone, dll.) mendukung FOSS?
Jawab: Makin banyak pengembangan software free/open source yang bagus, makin murah harga software. Akibatnya, harga hardware kami juga makin murah, pembeli hardware makin banyak yang sebagiannya membeli hardware kami, sehingga pemasukan dan keuntungan perusahaan hardware kami meningkat.

Tanya: Mengapa perusahaan Anda di bidang media seperti mesin pencari, email gratis, blog, social networking, portal berita, dan sebagianya mendukung FOSS?
Jawab: Karena perusahaan media sangat membutuhkan software-software bagus yang murah sebagai infrastruktur jaringan dan server kami, juga pengembangan aplikasi bisnis kami, sehingga biaya operasional kami makin kecil. Demikian pula pengakses kami makin banyak karena harga komputer dan internet makin murah, makin banyak iklan kami peroleh, dan tentu saja keuntungan kami meningkat.

Tanya: Terakhir untuk Anda bertiga, bagaimana kalau semua software itu tergolong FOSS?
Jawab: Tentu kami makin senang, karena monopoli software berkurang, kekhawatiran orang mengcopy software menjadi hilang, sehingga yang mengakses internet terus bertambah dan pembeli hardware baru makin banyak. Ini artinya kita kembali seperti awal, bahwa semua software itu open source.

Tanya: Maaf saya lupa bertanya ke Anda yang berbisnis software, mengapa mendukung FOSS, padahal Anda jualan software?
Jawab: Justru itulah yang kami harapkan, karena kami jualan software, bukan jualan lisensi. Jika semua pebisnis software jualan software, tidak jualan lisensi, maka posisi kami sejajar. Siapa yang memberikan produk dan support terbaik, dia yang menang. Bukan seperti sekarang, hanya yang kuat yang menang.