Sunday, June 01, 2014

Kuliah Apa yang Prospeknya Bagus

Setiap tahun, di masa-masa pendaftaran calon mahasiswa baru perguruan tinggi, saya menerima pertanyaan dari teman-teman yang punya anak mau mendaftar kuliah. Pertanyaan paling sering, "Jurusan apa yang prospek kerjanya bagus?" Pertanyaan lain, biasanya dari orang tua yang anaknya perempuan, "Jurusan apa yang lulusannya mudah menjadi wirausaha atau bekerja dari rumah?" Berikut ini jawaban saya berdasar pengamatan dan pengalaman, bukan hasil riset ilmiah. 

Saya biasanya menjawab agak di luar inti pertanyaan. Saya jelaskan semua jurusan atau program studi bisa membekali mahasiswa untuk bekerja maupun berwirausaha, selama mahasiswa senang atau punya passion di jurusan itu. Tapi para penanya tidak puas dengan jawaban saya. Ternyata, mereka bertanya ke saya karena "buta" hubungan kuliah dengan dunia kerja/usaha dan tidak tahu apa passion anaknya. Yang terakhir itu membuat saya harus menjawab dengan menyebut nama-nama jurusan atau program studi. 

Meskipun latar belakang kuliah dan kerja saya terkait komputer, saya berusaha menjawab jujur ke para penanya. Jurusan ilmu pasti yang paling tinggi prospek mendapatkan kerja maupun berwirausaha atau bekerja dari rumah adalah Kedokteran, dan jurusan ilmu sosial adalah Psikologi. Ilmu pasti setelah Kedokteran adalah Ilmu Komputer (Teknik Informatika) atau Sistem Komputer, dan ilmu sosial setelah Psikologi adalah Ekonomi (Manajemen atau Akuntansi). Gabungan keduanya (ilmu komputer dan ilmu ekonomi) adalah Sistem Informasi. Di beberapa perguruan tinggi, pemilih Sistem Informasi lebih banyak daripada Teknik Informatika (Ilmu Komputer), bisa jadi karena ingin mendapatkan ilmu komputer dan manajemen/bisnis secara bersamaan, atau karena tidak suka ilmu komputer yang mendalam, tapi suka memanfaatkan program komputer untuk bisnis. 

Tuesday, April 15, 2014

Beberapa Pilihan bagi Pengguna Win XP

Beberapa kawan curhat, apa yang harus dilakukan terhadap aplikasi yang digunakannya di Windows XP, sementara Microsoft tidak lagi memberi dukungan jika ada masalah keamanan atau bug di Windows XP. Padahal aplikasi kawan itu penting untuk kantornya, sedangkan pindah ke Windows versi baru sangat berat secara teknis dan biaya.

Berikut ini beberapa saran yang dapat dipertimbangkan sesuai dengan kondisi komputer, keuangan, sdm, dan operasional jangka pendek-menengah-panjang.

  1. Jika aplikasi yang harus jalan di Windows XP itu tidak digunakan secara terus-menerus, pasang Windows XP dan aplikasinya di mesin virtual di Linux, misal mengggunakan VirtualBox. Mesin virtual dan Windows XP hanya dijalakan jika perlu saja. Jika khawatir komputer bermasalah atau diserang cracker karena banyak celah keamanan, matikan jaringan Windows XP di VirtualBox tersebut.  
  2. Jalankan wine atau program emulator sejenis untuk menjalankan aplikasi itu di Linux. Jika aplikasi berjalan mulus dengan wine, cara ini lebih ringan daripada cara pertama dengan mesin virtual. 
  3. Buat ulang aplikasi itu agar dapat dijalankan di Linux desktop atau server web. Ini akan lebih aman dan ringan lagi, dengan risiko butuh waktu dan biaya untuk membuat ulang aplikasi. Cara ini sangat bagus jika ingin mengubah aplikasi dari stand alone atau desktop ke client-server atau berbasis web/mobile. 
  4. Jika tidak memiliki komputer dan software untuk pengembangan aplikasi (cara ke-3), maka buat ulang aplikasi dengan cara komputasi awan (Cloud Computing), misal menggunakan jasa penyewaan software untuk pengembangan atau PaaS (Platform as a Service). Contoh PaaS adalah Google App Engine, AppScale, Cloud Foundry, dan sebagainya.
Agar dapat menentukan pilihan yang tepat, gunakan akal sehat, mirip memilih caleg atau presiden dalam pemilu (?). Pertimbangkan antara manfaat dan biaya yang timbul (cost benefit analysis), apakah membuat ulang lebih bermanfaat dan hemat biaya serta lebih terbuka pengembangan ke depan, misal dibandingkan dengan menjalankan mesin virtual, emulator, atau membeli lisensi Windows versi baru.

Monday, April 14, 2014

Jadi Ahli IT Bisa Diraih Siapa Saja


Yayasan Profesi Terpadu Nurul Fikri bersama LAZIS PT PLN Pusat memberikan Program Beasiswa Pesantren Teknologi Informasi dan Komunikasi jurusan Teknik Informatika (TI) selama 2 tahun, yakni kuliah ilmu komputer dari dasar hingga mahir di bidang pemrograman dan jaringan dengan Linux, PHP, MySQL, Java, Android, dan lain-lain yang dipadu dengan kurikulum kepesantrenan (Tahfidzul Qur'an, Aqidah, Akhlak, Fiqh dan bahasa Arab).  Kurikulum 4 semester sepertti yang ada di sini.

Fasilitas Tambahan: 
✅Program Pengembangan Diri
✅Tempat tinggal (Asrama)
✅Uang Saku Bulanan Rp. 600.000,-
✅Bantuan penyaluran kerja. 

Syarat Pendaftaran:
✅Laki-laki, berakhlak baik, sehat jasmani & rohani dan tidak merokok.
✅Berasal dari keluarga tidak mampu.
✅Mampu membaca dan menulis Al Qur'an, dan hafal minimal 10 surat dalam Al Qur'an.
✅Lulus MA/SMU/SMK atau sederajat tahun 2012, 2013 atau 2014.
✅Bersedia tinggal di asrama dan mematuhi panduan & tata tertib pesantren selama 2 tahun.

Dengan Menyerahkan dokumen:
✅Formulir pendaftaran dan form assessment (dapat diperoleh di PeTIK)
✅Surat pernyataan org tua/wali bermaterai ttg pengajuan beasiswa.
✅Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari Kelurahan tempat tinggal.
✅Slip gaji org tua/wali atau Surat Keterangan Total penghasilan dari Kelurahan.
✅Surat keterangan sehat dari PUSKESMAS
✅Foto berwarna, 4x6 3 lembar
✅Salinan akta lahir, Kartu Keluarga, KTP pribadi dan KTP org tua.
✅Surat Rekomendasi dari Kepala Sekolah.
✅Salinan Rapor kelas X, XI dan XII, serta salinan Ijazah dan SKHUN yang telah dilegalisir (khusus lulusan 2012 dan 2013). 
✅Salinan sertifikat prestasi bidang akademik/non-akademik. 

Waktu-waktu Penting: 
✅Publikasi, Pengumpulan Berkas dan Seleksi Administrasi : 1 Januari – 30 April 2014
✅Uji Seleksi Wawasan Islam: 5 Mei 2014
✅Tes Potensi Akademik: 12 Mei 2014
✅Psikotes dan Wawancara Psikologi: 19 Mei 2014
✅Tes Kesehatan: 26 Mei 2014
Perkuliahan dimulai 1 Juni 2014. 

Informasi lebih lanjut:
Pesantren Teknologi Informasi dan Komunikasi (PeTIK)
Jl. Mandor Basar No. 54 RT 01 / RW 01 Rangkapanjaya, Pancoran Mas, Depok.
No. Telp.: 021 77886691
HP: 0838 9893 3288 / 0821 1122 3380

Tuesday, March 11, 2014

Pendidikan Link and Match Web Programming

Dalam suatu obrolan ringan, saya mencatat dialog sebagai berikut. "Saya sudah lebih dari dua puluh tahun lalu mendengar istilah Link and Match. Saya juga temukan banyak tulisan di internet tentang itu. Berbagai perguruan tinggi memiliki program Link and Match. Tapi saya belum banyak lihat contoh nyatanya. Ada di mana, ya?"

Kemudian dalam sutau rapat di sebuah asosiasi perusahaan software juga muncul pertanyaan senada berikut ini. "Banyak lembaga pendidikan komputer di Indonesia, mulai dari SMK, diploma, hingga sarjana, tapi mengapa perusahaan saya masih kesulitan mendapatkan programmer web, meskipun lowongan itu untuk junior programmer. Mestinya banyak lembaga pendidikan tinggi komputer dapat menyediakannya. Apakah semua lulusan sudah kerja atau banyak lulusan tidak siap kerja?"

Salah satu contoh Program Link and Match yang berhasil mendidik dan menyalurkan lulusan, dalam kasus ini programer web, diselenggarakan STT NF, tepatnya Career Development Center - Sekolah Tinggi Teknologi Terpadu Nurul Fikri. Setelah berjalan sekitar 4 bulan, program Link and Match CDC - STT NF itu meluluskan dua angkatan. Angkatan pertama dengan sistem training 1 bulan di STT NF plus magang 3 bulan di perusahaan. Angkatan pertama diikuti 6 peserta lulusan SMK/D3, dan alhamdulillah semua lulusan pertama telah bekerja di beberapa perusahaan. 

Angkatan kedua menggunakan sistem training langsung di salah satu perusahaan sponsor (Matsushita) selama 1 bulan. Training kedua ini diikuti 13 peserta, 8 peserta lulus sertifikasi web programming, dan 5 peserta lulus junior web programming yang diadakan Badan Nasional Sertifikasi Profesi - LSP Telematika. Saat tulisan ini disusun, para lulusannya mulai wawancara dan sebagian sudah diterima bekerja di perusahaan. 

Yang membedakan sistem pertama (training plus magang) dan kedua (traning saja, tapi di lingkungan industri) adalah latar belakang peserta. Yang pertama peserta sudah belajar pemrograman karena berasal dari SMK jurusan Rekayasa Perangkat Lunak dan D3 komputer. Sedangkan yang kedua tidak ada yang berlatar belakang pemrograman, sehingga kurikulumnya sedikit berbeda.

Banyak perusahaan telah memesan lulusan program Link and Match CDC STT NF. Beberapa di antara nama perusahaan yang telah menerima magang lulusan dan menerima kerja adalah Skydivo Indonesia, Artikulpi, Telunjuk.com, Esindo.net, Anilo AdiKarya, NCI, dan InsightMax. Anda berminat menjadi peserta? Atau berminat menerima magang dan kerja lulusannya? Kontak langsung CDC STT NF

Monday, February 17, 2014

Ulasan Singkat Buku The Power of OwnCloud

Saya menerima kiriman buku “The Power of OwnCloud”, yang mengupas salah satu produk Open Source untuk teknologi cloud computing atau komputasi awan yang sedang menjadi tren namun belum banyak ditulis dalam bahasa Indonesia. OwnCloud merupakan produk perangkat lunak – semacam Dropbox – untuk penyimpanan data di internet. Untuk itu kami mengucapkan selamat dan terima kasih kepada Pak Dedy Setyo Afrianto, guru NF Boarding School - Serang Banten, yang telah menyusun buku ini dan mendedikasikan karyanya untuk pendidikan dan pengembangan teknologi informasi di Indonesia.
Salah satu keistimewaan OwnCloud yang dikupas dalam buku  ini adalah tersedia OwnCloud versi komunitas yang berlisensi free software atau open source, sehingga bebas digunakan, bebas dipelajari cara kerjanya, dan bebas dimodifikasi agar sesuai dengan kebutuhan penggunanya. OwnCloud dapat dipasang pada sistem operasi open source Linux dan sistem operasi lainnya. Linux saat ini sangat terkenal dan digunakan oleh banyak komputer di dunia, mulai dari server hingga smartphone seperti Android, dan lain-lain.  
SDM yang menguasai teknologi cloud masih langka namun dicari banyak perusahaan, antara lain karena kebutuhan tempat penyimpanan di internet pada era komputer bergerak saat ini sangat tinggi. Tidak hanya para pengguna komputer tablet dan smartphone, tapi juga pengguna komputer meja dan laptop ingin mendapatkan kemudahan dalam menyimpan datanya di internet. Data harus dapat diunggah (upload) ke internet, diunduh (download) dari internet, dan disinkronisasikan dengan data di komputer tablet atau smartphone, kapan saja dan dari/di mana saja. Untuk itulah teknologi penyimpanan berbasis komputasi awan menjadi sangat penting dipelajari dan dimanfaatkan, khususnya oleh para administrator jaringan atau pengelola infrastruktur teknologi informasi. 

Sunday, February 16, 2014

Perbedaan BlankOn 9 dan Windows 8

Perbedaan BlankOn 9 dan Windows 8. Tulisan ini ditujukan untuk calon pengguna BlankOn 9 yang saat ini menggunakan Windows XP atau Windows 7 atau Windows 8 dan ingin mencoba sistem operasi komputer BlankOn 9. Tulisan ini hanya mengupas sebagian perbedaan, tanpa memberi nilai kelebihan atau kekurangan, dan tanpa memberi nilai mana yang lebih baik atau mana yang lebih jelek. Ini hanya sebagian kecil perbedaan, masih banyak perbedaan lainnya. Jika ingin tahu lebih jauh BlankOn 9 dan tampilan-tampilannya, silakan cek Download BlankOn. Saya menggunakan versi 64bit pada laptop Compaq Presario CQ42 Pentium Dual Core T4500 (pembelian 2010).

  1. Windows 8 sudah ada dalam komputer, terlepas dari siapa yang memasangnya dan legalitasnya. Sedangkan BlankOn 9 belum terpasang, sehingga Anda harus menginstalnya lebih dahulu. 
  2. BlankOn 9 ketika dipasang langsung berisi aplikasi perkantoran LibreOffice, pengolah foto GIMP, dan penggambar Inkscape, sedangkan Windows 7/8 ketika dipasang pertama belum dilengkapi aplikasi perkantoran (misal msoffice), pengolah foto (misal photoshop), pembuat gambar (misal coreldraw), sehingga Anda harus membeli atau membajak dan menginstalnya setelah selesai menginstal Windows 8. 
  3. Windows 8 langsung aktif suspend (standby) ketika layar laptop ditutup, sedangkan BlankOn 9 membutuhkan instal power management (acpi-support dan paket lain yang dibutuhkan, dengan ukuran total hanya sekitar 900 kB) dari internet melalui program Warsi (Warung Aplikasi) setelah BlankOn 9 terpasang. 
  4. BlankOn 9 mendukung aksara lokal Indonesia (Bali, Batak Toba, Bugis, Jawa, Rejang, dan Sunda), sedangkan Windows 8 tidak/belum. 
  5. Windows 8 membutuhkan driver agar dapat digunakan untuk mencetak (printer) dan mengakses internet melalui modem 3G, sedangkan BlankOn tidak lagi membutuhkan driver untuk sebagian besar printer dan modem 3G yang sudah mendukung Linux. Di sisi lain, Windows 8 didukung pembuat printer dalam bentuk CD driver yang disertakan dalam printer, sedangkan sebagian pembuat printer itu tidak menyediakan driver Linux di dalam CD driver.  
  6. Jendela (desktop, menu, ikon, dll. yang terkait destop) BlankOn 9 dikembangkan oleh para pengembang software Indonesia secara terbuka (Open Source), sedangkan jendela Windows 8 dikembangkan oleh perusahaan Microsoft dari luar Indonesia secara tertutup (Proprietary). 
  7. Windows 8 memerlukan biaya untuk mendapatkan izin penggunaan (lisensi Microsoft), sedangkan BlankOn 9 tidak perlu biaya izin (lisensi GPL, LGPL, dan lain-lain). 

Thursday, December 26, 2013

Windows XP dan Linux di 2014

2013 menjadi tahun terburuk saya menulis blog. Saya hanya membuat satu tulisan di Januari 2013, dan baru menulis kembali di ujung Deseember 2013.

Ide tulisan ini datang setelah saya membaca artikel Jack M. Germain di Linux Insider. Apa yang kira-kira akan dilakukan pengguna Windows XP di Indonesia setelah Microsoft menghentikan dukungannya pada April 2014?

Setahu saya masih banyak komputer di Indonesia menggunakan Windows XP. Alasan pengguna Windows XP tidak pindah ke Wiindows Vista, 7, 8, atau 8.1, umumnya karena spesifikasi komputernya rendah, misal hanya memiliki memori RAM 512 MB atau kurang, dengan usia komputer sudah lebih dari lima tahun. Juga tidak pindah ke Linux karena belum terbiasa atau bahkan belum tahu ada Linux yang bisa menggantikan fungsi Windows XP.

Jika komputer berisi Windows XP akan tetap digunakan tanpa mengupgrade hardware dan tanpa mengeluarkan biaya lisensi, maka saya sarankan komputer itu dimigrasikan ke salah satu jenis (distro) Linux yang mendukung hardware lama. Tidak ada biaya lisensi Linux, hanya kemungkinan ada biaya migrasi. Masalahnya, siapa yang akan memigrasikan ke Linux? Jika migrasi dilakukan pihak lain, berapa biayanya?

Dua pertanyaan itu belum bisa saya jawab, karena sangat tergantung siapa penggunanya dan di institusi apa komputer XP itu berada. Saya berharap teman-teman yang sudah biasa menggunakan Linux bersedia membantu para pengguna XP untuk bermigrasi ke Linux, dengan biaya atau tanpa biaya, sesuai kemampuan pengguna dan kemampuan Anda sebagai pemberi bantuan.