Ini hasil wawancara virtual saya dengan beberapa pelaku bisnis ICT di dunia.
Tanya: Mengapa perusahaan Anda sebagai operator telekomunikasi atau penyedia jasa akses internet mendukung FOSS?
Jawab: Makin banyak orang menggunakan Linux dan FOSS lainnya, pemasukan perusahaan kami naik karena makin banyak orang mendownload software melalui internet. Juga akan makin banyak orang punya komputer dan gadget untuk mengakses internet karena harganya makin murah. Tentu sebagian pengguna FOSS dalam bentuk komputer atau gadget akan mengakses internet melalui perusahaan kami, sehingga keuntungan perusahaan kami meningkat.
Tanya: Mengapa perusahaan Anda sebagai pembuat hardware (prosesor, memory, dan periperal komputer lainnya, server, pc desktop, laptop, netbook, nettop, router, smartphone dan handphone, dll.) mendukung FOSS?
Jawab: Makin banyak pengembangan software free/open source yang bagus, makin murah harga software. Akibatnya, harga hardware kami juga makin murah, pembeli hardware makin banyak yang sebagiannya membeli hardware kami, sehingga pemasukan dan keuntungan perusahaan hardware kami meningkat.
Tanya: Mengapa perusahaan Anda di bidang media seperti mesin pencari, email gratis, blog, social networking, portal berita, dan sebagianya mendukung FOSS?
Jawab: Karena perusahaan media sangat membutuhkan software-software bagus yang murah sebagai infrastruktur jaringan dan server kami, juga pengembangan aplikasi bisnis kami, sehingga biaya operasional kami makin kecil. Demikian pula pengakses kami makin banyak karena harga komputer dan internet makin murah, makin banyak iklan kami peroleh, dan tentu saja keuntungan kami meningkat.
Tanya: Terakhir untuk Anda bertiga, bagaimana kalau semua software itu tergolong FOSS?
Jawab: Tentu kami makin senang, karena monopoli software berkurang, kekhawatiran orang mengcopy software menjadi hilang, sehingga yang mengakses internet terus bertambah dan pembeli hardware baru makin banyak. Ini artinya kita kembali seperti awal, bahwa semua software itu open source.
Tanya: Maaf saya lupa bertanya ke Anda yang berbisnis software, mengapa mendukung FOSS, padahal Anda jualan software?
Jawab: Justru itulah yang kami harapkan, karena kami jualan software, bukan jualan lisensi. Jika semua pebisnis software jualan software, tidak jualan lisensi, maka posisi kami sejajar. Siapa yang memberikan produk dan support terbaik, dia yang menang. Bukan seperti sekarang, hanya yang kuat yang menang.
Wednesday, November 18, 2009
Saturday, November 14, 2009
Migrasi ke Linux Single atau Dual Boot?
Ketika Anda ingin memasang Linux pada komputer yang telah berisi sistem operasi lain, biasanya lebih dahulu Anda harus menjawab beberapa pertanyaan. Apakah Linux akan dipasang untuk menggantikan sistem operasi lain, atau Linux sebagai alternatif, atau Linux sebagai sistem operasi utama dan yang lainnya sebagai alternatif? Pertanyaan yang tidak mudah dijawab, bahkan oleh orang yang telah mahir sekalipun. Pilihan single atau dual boot bukan karena pertimbangan teknis semata, tapi lebih sering karena pertimbangan non teknis.
Saya mencoba memberikan masukan sebelum Anda membuat keputusan. Anda dapat mengumpulkan informasi dengan menjawab pertanyaan, “Apa tujuan atau alasan Anda memasang Linux di komputer itu?” Dari jawaban Anda, kita akan menemukan solusi terbaik untuk Anda dan pengguna komputer lainnya.
Jika tujuan memasang Linux hanya untuk mengenalkan Linux sebelum pengguna komputer itu memutuskan mau pakai Linux atau tidak, dual boot pilihannya. Namun ada beberapa pilihan lain yang baik juga dipertimbangkan untuk coba-coba ini, misalnya menjalankan Linux Live CD atau menginstal Linux di atas sistem operasi yang telah ada. Kedua pilihan terakhir ini lebih tidak berisiko dibandingkan dual boot.
Jika alasan memasang Linux karena ingin aman dari virus, maka single boot pilihan yang saya sarankan. Demikian pula jika alasan memasang Linux karena ingin terbebas dari software bajakan dan virus, maka single boot adalah pilihan tepat. Alasan tidak ingin membajak software ini muncul biasanya karena pengguna komputer atau lembaganya tidak mampu atau tidak mau membeli lisensi software yang mahal. Keputusan memilih Linux dan FOSS dibuat karena ingin menghemat biaya lisensi di satu sisi, dan ingin taat hukum di sisi lain.
Meskipun pengguna dapat beralasan mampu membeli lisensi atau menyediakan anti virus, dual boot tetap bukan pilihan bijak, karena pengguna memiliki peluang lebih besar untuk kembali ke software bajakan atau sistem operasi yang rentan terhadap virus. Dalam keadaan terpaksa, misal ada software penting yang belum dapat dijalankan di Linux, dual boot pilihan Anda.
(Pengantar Redaksi majalah InfoLINUX 11/2009).
Saya mencoba memberikan masukan sebelum Anda membuat keputusan. Anda dapat mengumpulkan informasi dengan menjawab pertanyaan, “Apa tujuan atau alasan Anda memasang Linux di komputer itu?” Dari jawaban Anda, kita akan menemukan solusi terbaik untuk Anda dan pengguna komputer lainnya.
Jika tujuan memasang Linux hanya untuk mengenalkan Linux sebelum pengguna komputer itu memutuskan mau pakai Linux atau tidak, dual boot pilihannya. Namun ada beberapa pilihan lain yang baik juga dipertimbangkan untuk coba-coba ini, misalnya menjalankan Linux Live CD atau menginstal Linux di atas sistem operasi yang telah ada. Kedua pilihan terakhir ini lebih tidak berisiko dibandingkan dual boot.
Jika alasan memasang Linux karena ingin aman dari virus, maka single boot pilihan yang saya sarankan. Demikian pula jika alasan memasang Linux karena ingin terbebas dari software bajakan dan virus, maka single boot adalah pilihan tepat. Alasan tidak ingin membajak software ini muncul biasanya karena pengguna komputer atau lembaganya tidak mampu atau tidak mau membeli lisensi software yang mahal. Keputusan memilih Linux dan FOSS dibuat karena ingin menghemat biaya lisensi di satu sisi, dan ingin taat hukum di sisi lain.
Meskipun pengguna dapat beralasan mampu membeli lisensi atau menyediakan anti virus, dual boot tetap bukan pilihan bijak, karena pengguna memiliki peluang lebih besar untuk kembali ke software bajakan atau sistem operasi yang rentan terhadap virus. Dalam keadaan terpaksa, misal ada software penting yang belum dapat dijalankan di Linux, dual boot pilihan Anda.
(Pengantar Redaksi majalah InfoLINUX 11/2009).
Labels:
dual boot,
linux,
migrasi,
single boot
Saturday, October 24, 2009
Open Source itu Netral
Ketika para pengguna, pengembang, pebisnis, pencinta, dan pendukung Open Source meminta pemerintah RI fokus ke pemanfaatan softawre yang dikembangkan dengan cara Open Source atau konsep pengembangan software dengan cara gotong-royong, sebagian pihak memrotes dengan alasan itu tidak netral. Tuduhan tidak netral itu salah, karena Open Source bukan nama vendor, bukan nama produk, bahkan bukan nama teknologi. Kalau memihak ke BlankOn saja misalnya, baru itu tidak netral dipandang dari sudut globalisasi saat ini. Belum tahu ke depan. :-)
Pada awalnya, semua software dikembangkan dengan konsep Open Source. Baru setelah ada UU Hak Cipta tentang software, ada gerakan Closed Source atau Proprietary. Jadi, Closed Source atau proprietary hal itu baru. Istilah Open Source baru heboh, setelah dunia ICT dikuasasi (cenderung di-monopoli) software proprietary.
Open Source hanya cara orang membuat dan mendistribusikan software. Siapa pun dapat dan boleh berbisnis dengan konsep Open Source. Perusahaan yang selama ini terkenal dengan bisnis software proprietary (biasanya tidak Open Source), tidak bisa lepas dari nurani (hakiki) pengembang software, bahwa semua sofwtare dan ICT lainnya sewajarnya Open Source. Salah satu bukti, cek info berikut ini:
Pebisnis Software sewajarnya Open Source.
Bagaimana pendapat Anda?
Pada awalnya, semua software dikembangkan dengan konsep Open Source. Baru setelah ada UU Hak Cipta tentang software, ada gerakan Closed Source atau Proprietary. Jadi, Closed Source atau proprietary hal itu baru. Istilah Open Source baru heboh, setelah dunia ICT dikuasasi (cenderung di-monopoli) software proprietary.
Open Source hanya cara orang membuat dan mendistribusikan software. Siapa pun dapat dan boleh berbisnis dengan konsep Open Source. Perusahaan yang selama ini terkenal dengan bisnis software proprietary (biasanya tidak Open Source), tidak bisa lepas dari nurani (hakiki) pengembang software, bahwa semua sofwtare dan ICT lainnya sewajarnya Open Source. Salah satu bukti, cek info berikut ini:
Pebisnis Software sewajarnya Open Source.
Bagaimana pendapat Anda?
Labels:
blankon,
netral,
open sourec
Monday, September 28, 2009
ILC, GCOS, RMS, Olimpiade Office, dll.
Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 telah mengilhami beberapa personal, organisasi profesi, komunitas, sekolah, lembaga pemerintah dan swasta, serta perguruan tinggi di Indonesia untuk berbuat sesuatu yang beda pada Oktober 2009 ini. Setahu saya, semua itu bukan asal beda, tapi kegiatan yang menguras fisik dan psikis untuk memajukan TIK Indonesia dengan memasyarakatkan peranti lunak Merdeka/Open Source.
Kegiatan itu antara lain:
Semoga semua kegiatan itu tidak hanya berhenti di kegiatan sesaat atau seremonial, tapi benar-benar menggugah semangat dan menggerakan seluruh fisik dan psikis peserta dan panitia untuk berbuat nyata dalam penggunaan software legal berbasis software merdeka (Free Software) atau terbuka (Open Source Software) untuk kehidupan yang lebih baik.
Selamat berjuang kawan-kawan, masa depan TIK Indonesia ada di tangan-tangan kalian.
Merdeka!
Kegiatan itu antara lain:
- ILC 2009 (Indonesian GNU/Linux Conference) di Unhas Makassar, 10-11 Oktober 2009.
- GCOS (Global Conference on Free/Open Source Software), di Shangri-La Hotel Jakarta, 26-27 Oktober 2009.
- RMS (Richard M. Stallman) Berbicara tentang Free Software dan GNU/Linux, di Gedung BPPT Jakarta, 28 Oktober, dan di Univ Indonesia Depok (tentative, 29 Oktober).
- Juga beberapa kegiatan serupa di Univ Negeri Padang (tentative 17-18 Oktober), Univ Merdeka Malang (tentative 19 Oktober), Univ Persada Indonesia YAI Jakarta (tentative 28 Oktober), dan final Olimpiade Office Open Source (ODF Olympiad) di Jakarta 24-25 Oktober 2009.
Semoga semua kegiatan itu tidak hanya berhenti di kegiatan sesaat atau seremonial, tapi benar-benar menggugah semangat dan menggerakan seluruh fisik dan psikis peserta dan panitia untuk berbuat nyata dalam penggunaan software legal berbasis software merdeka (Free Software) atau terbuka (Open Source Software) untuk kehidupan yang lebih baik.
Selamat berjuang kawan-kawan, masa depan TIK Indonesia ada di tangan-tangan kalian.
Merdeka!
Labels:
gcos,
ilc,
odf olympiad,
rms
Sunday, August 30, 2009
Idul Fitri 1430H Jatuh pada 20 September 2009
Ini bukan ramalan, prakiraan, atau prediksi. Anda dapat melakukan pengamatan dan perhitungan yang sangat akurat dengan Linux, berdasarkan ketentuan Tuhan bahwa matahari, bulan, dan bumi beredar pada garis edarnya dengan sangat teratur. Tidak pernah sedetikpun bulan berhenti mengitari bumi, dan tidak pernah sedetikpun bumi bersama bulan berhenti mengitari matahari. Kecuali Tuhan menghendaki lain, misalnya Tuhan menghentikan gerakan bumi sedetik saja, yang artinya hari kiyamat telah datang sebelum 1 Syawal 1430H.
Jadi, keteraturan yang luar biasa atas kehendak Tuhan Sang Pencipta alam semesta itu menjadikan manusia dapat menentukan kapan 1 Syawal dengan tepat. Kalau pun terjadi perbedaan orang menetapkan 1 Syawal, bukan karena perbedaan edar matahari, bumi, dan bulan, tapi karena perbedaan kriteria dan acuan dalam menentukan bulan sabit (hilal). Para ahli falak melakukan penentuan 1 Syawal melalui Rukyatul-Hilal atau melihat bulan sabit.
Ada beberapa kriteria rukyatul hilal, dua di antaranya yang banyak digunakan di Indonesia adalah wujudul-hilal dan imkanur-rukyat. Kedua kriteria itu kadang menghasilkan ketetapan 1 Syawal berbeda, meskipun sama-sama menetapkan ada bulan (hilal) saat matahari terbenam. Bahkan, kriteria yang sama belum tentu menghasilkan ketetapan yang sama, misal karena perbedaan tempat acuan (tempat melihat bulan).
Kriteria wujudul hilal menetapkan 1 Syawal bila bulan telah berada di atas ufuk (horizon) saat matahari terbenam, tanpa menentukan minimal ketinggian bulan. Kriteria imkanur rukyat menetapkan 1 Syawal bila bulan telah berada di atas ufuk saat matahari terbenam, dengan ketinggian bulan minimal antara 2 hingga 8 derajad. Ketentuan tinggi minimal bulan sabit ini terkait dengan bisa tidaknya dilihat oleh teropong atau mata.
Pada 2009 ini, insya Allah kedua kriteria itu akan menghasilkan ketetapan yang sama, yaitu bulan telah berada di atas ufuk (sekitar 5 derajad) saat matahari terbenam pada Sabtu 19 September 2009. Sehingga besoknya Minggu 20 September 2009 adalah 1 Syawal 1430H. Karena 1 Syawal jatuh pada hari libur (Minggu), maka pemerintah Indonesia menggeser libur lebaran menjadi Senin dan Selasa (21-22 September 2009).
Namun, ketentuan akhir tetap di tangan Tuhan, sehingga kita tetap harus menunggu 19 September 2009 sore untuk "memastikan" 1 Syawal. Siapa tahu kiyamat datang sebelum itu. Ya, iyalah...
Bagaimana menentukan 1 Syawal dengan Linux? Anda dapat menggunakan kstars atau stellarium yang telah ada di Linux LiveCD Sabily 9.04. Petunjuk selengkapnya dan Linux Sabily itu tersedia di majalah InfoLINUX edisi 09/2009 yang saat ini sedang beredar. :-)
Jadi, keteraturan yang luar biasa atas kehendak Tuhan Sang Pencipta alam semesta itu menjadikan manusia dapat menentukan kapan 1 Syawal dengan tepat. Kalau pun terjadi perbedaan orang menetapkan 1 Syawal, bukan karena perbedaan edar matahari, bumi, dan bulan, tapi karena perbedaan kriteria dan acuan dalam menentukan bulan sabit (hilal). Para ahli falak melakukan penentuan 1 Syawal melalui Rukyatul-Hilal atau melihat bulan sabit.
Ada beberapa kriteria rukyatul hilal, dua di antaranya yang banyak digunakan di Indonesia adalah wujudul-hilal dan imkanur-rukyat. Kedua kriteria itu kadang menghasilkan ketetapan 1 Syawal berbeda, meskipun sama-sama menetapkan ada bulan (hilal) saat matahari terbenam. Bahkan, kriteria yang sama belum tentu menghasilkan ketetapan yang sama, misal karena perbedaan tempat acuan (tempat melihat bulan).
Kriteria wujudul hilal menetapkan 1 Syawal bila bulan telah berada di atas ufuk (horizon) saat matahari terbenam, tanpa menentukan minimal ketinggian bulan. Kriteria imkanur rukyat menetapkan 1 Syawal bila bulan telah berada di atas ufuk saat matahari terbenam, dengan ketinggian bulan minimal antara 2 hingga 8 derajad. Ketentuan tinggi minimal bulan sabit ini terkait dengan bisa tidaknya dilihat oleh teropong atau mata.
Pada 2009 ini, insya Allah kedua kriteria itu akan menghasilkan ketetapan yang sama, yaitu bulan telah berada di atas ufuk (sekitar 5 derajad) saat matahari terbenam pada Sabtu 19 September 2009. Sehingga besoknya Minggu 20 September 2009 adalah 1 Syawal 1430H. Karena 1 Syawal jatuh pada hari libur (Minggu), maka pemerintah Indonesia menggeser libur lebaran menjadi Senin dan Selasa (21-22 September 2009).
Namun, ketentuan akhir tetap di tangan Tuhan, sehingga kita tetap harus menunggu 19 September 2009 sore untuk "memastikan" 1 Syawal. Siapa tahu kiyamat datang sebelum itu. Ya, iyalah...
Bagaimana menentukan 1 Syawal dengan Linux? Anda dapat menggunakan kstars atau stellarium yang telah ada di Linux LiveCD Sabily 9.04. Petunjuk selengkapnya dan Linux Sabily itu tersedia di majalah InfoLINUX edisi 09/2009 yang saat ini sedang beredar. :-)
Sunday, August 16, 2009
Buat apa Indonesia merdeka? Buat apa Linux open source?
..........Introspeksi sejenak menyambut hari kemerdekaan RI dan TIK.........
Di bidang negara, mengapa para pendiri negara kita memilih merdeka? Mengapa tidak bergabung saja dengan Jepang atau salah satu negara sekutu, Amerika atau Belanda atau yang lain? Kan tinggal pakai aturan yang ada, tinggal menikmati jabatan, tidak perlu perang, apalagi harus gerilya, tidak perlu menyusun undang-undang, tidak perlu belajar ilmu membangun negara baru, yang penting enak to? Mengapa hayo?
Karena, para Bapak Bangsa (the founding fathers) negara kita, saya dan juga Anda, ingin kedaulatan (menentukan nasib sendiri), punya kebebasan dalam mengelola negara, menentukan bentuk negara, bisa menjaga keamanan negara, mengatur sendiri kekayaan dan keuangan negara, tidak diatur pihak lain, apalagi pihak lain itu terbukti hanya mencari keuntungan sendiri.
Di bidang TIK, mengapa pakai Open Source atau software merdeka? Mengapa tidak ambil saja yang ada (Proprietary)? Kan tinggal pakai, tidak perlu mengubah kebiasaan, tidak perlu belajar, tidak perlu mengembangkan software sendiri, yang penting enak to? Mengapa hayo?
Karena, kami dan juga (saya yakin) Anda, ingin kedaulatan dalam menggunakan software, menentukan program apa yang mau kita pakai, mengatur sendiri bagaimana menyebarkan program, bisa menjaga keamanan software, mengatur sendiri bisnis software, tidak diatur pihak lain, apalagi terbukti pihak lain itu hanya mencari keuntungan sendiri.
Lalu apa hubungan Kemerdekaan 17 Agustus dengan Linux dan Open Source? Sistem operasi adalah tulang punggung semua komputer/gadget yang kita gunakan, dan Linux itu tokoh popularnya. Kalau kita ingin bebas dari tekanan pihak luar (untuk membayar lisensi mahal), bebas dari virus, bebas dari dosa (membajak software), bebas mengembangkan sendiri, dan bebas dari ketergantungan, maka kita harus merdeka di bidang TIK dengan menggunakan Linux atau program open source atau free software lainnya.
Memang kita belum bisa lepas 100% dari negara lain, tapi kita ingin semakin merdeka dalam mengelola negara. Memang kita belum bisa lepas 100% dari software lain, tapi kita ingin semakin merdeka dalam mengelola TIK.
Negara Indonesia: Sekali Merdeka Tetap Merdeka!
TIK Indonesia: Sekali Merdeka Tetap Merdeka!
Free bukan Gratis, Free adalah Freedom alias Merdeka!
...................................................
Di bidang negara, mengapa para pendiri negara kita memilih merdeka? Mengapa tidak bergabung saja dengan Jepang atau salah satu negara sekutu, Amerika atau Belanda atau yang lain? Kan tinggal pakai aturan yang ada, tinggal menikmati jabatan, tidak perlu perang, apalagi harus gerilya, tidak perlu menyusun undang-undang, tidak perlu belajar ilmu membangun negara baru, yang penting enak to? Mengapa hayo?
Karena, para Bapak Bangsa (the founding fathers) negara kita, saya dan juga Anda, ingin kedaulatan (menentukan nasib sendiri), punya kebebasan dalam mengelola negara, menentukan bentuk negara, bisa menjaga keamanan negara, mengatur sendiri kekayaan dan keuangan negara, tidak diatur pihak lain, apalagi pihak lain itu terbukti hanya mencari keuntungan sendiri.
Di bidang TIK, mengapa pakai Open Source atau software merdeka? Mengapa tidak ambil saja yang ada (Proprietary)? Kan tinggal pakai, tidak perlu mengubah kebiasaan, tidak perlu belajar, tidak perlu mengembangkan software sendiri, yang penting enak to? Mengapa hayo?
Karena, kami dan juga (saya yakin) Anda, ingin kedaulatan dalam menggunakan software, menentukan program apa yang mau kita pakai, mengatur sendiri bagaimana menyebarkan program, bisa menjaga keamanan software, mengatur sendiri bisnis software, tidak diatur pihak lain, apalagi terbukti pihak lain itu hanya mencari keuntungan sendiri.
Lalu apa hubungan Kemerdekaan 17 Agustus dengan Linux dan Open Source? Sistem operasi adalah tulang punggung semua komputer/gadget yang kita gunakan, dan Linux itu tokoh popularnya. Kalau kita ingin bebas dari tekanan pihak luar (untuk membayar lisensi mahal), bebas dari virus, bebas dari dosa (membajak software), bebas mengembangkan sendiri, dan bebas dari ketergantungan, maka kita harus merdeka di bidang TIK dengan menggunakan Linux atau program open source atau free software lainnya.
Memang kita belum bisa lepas 100% dari negara lain, tapi kita ingin semakin merdeka dalam mengelola negara. Memang kita belum bisa lepas 100% dari software lain, tapi kita ingin semakin merdeka dalam mengelola TIK.
Negara Indonesia: Sekali Merdeka Tetap Merdeka!
TIK Indonesia: Sekali Merdeka Tetap Merdeka!
Free bukan Gratis, Free adalah Freedom alias Merdeka!
...................................................
Labels:
free software,
linux,
merdeka,
open source
Monday, July 27, 2009
Pengguna Linux tidak harus Belajar Linux
Dari hasil pengamatan dan wawancara kami ke para karyawan di berbagai perusahaan, terutama yang tidak memiliki latar pendidikan komputer, kami tidak banyak menemukan keluhan atau kesulitan pengguna ketika pertama menggunakan Linux. Mereka tidak melalui proses belajar lebih dulu, tapi langsung menggunakan komputer yang telah terinstal Linux untuk bekerja. Kalau pun belajar, biasanya belajar sambil bekerja.
Kelompok pengguna awam yang kami temui adalah pengguna komputer untuk perkantoran. Program yang digunakan antara lain OpenOffice (Office yang otomatis ada di umumnya Linux), program untuk mengakses web, email, dan chatting, program untuk mengedit foto, serta sebagian juga pakai program untuk memutar lagu dan film.
Beberapa perusahaan yang kami kunjungi itu juga bukan perusahaan TI. Sedikit contoh jenis usaha dan lokasinya adalah perusahaan farmasi (di Solo dan Semarang, Jawa Tengah), kargo/kurir (di Jakarta dan Cengkareng - Banten), otomotif (Jakarta dan Depok - Jawa Barat), penerbitan (Jakarta), dan sebagainya.
Saran saya untuk teman-teman bagian SDM atau TI yang ingin memudahkan karyawan awam bisa menggunakan Linux, sodorkan komputer yang telah terinstal Linux popular seperti BlankOn, Mandriva, Nusantara, openSUSE, dan yang sejenis. Jangan suruh belajar Linux sebelum menggunakan Linux, apalagi suruh install Linux. Kalau disuruh belajar dulu, pasti akan mengeluh atau kesulitan. Langsung pakai komputer Linux, dijamin bisa Linux, selama bisa menggunakan mouse dan keyboard.
Linux baru perlu dipelajari jika pengguna ingin menjadi Linux admin (system/network administrator) atau technical support dan profesi Linux lainnya, bukan sekadar pengguna Linux. :-)
Kelompok pengguna awam yang kami temui adalah pengguna komputer untuk perkantoran. Program yang digunakan antara lain OpenOffice (Office yang otomatis ada di umumnya Linux), program untuk mengakses web, email, dan chatting, program untuk mengedit foto, serta sebagian juga pakai program untuk memutar lagu dan film.
Beberapa perusahaan yang kami kunjungi itu juga bukan perusahaan TI. Sedikit contoh jenis usaha dan lokasinya adalah perusahaan farmasi (di Solo dan Semarang, Jawa Tengah), kargo/kurir (di Jakarta dan Cengkareng - Banten), otomotif (Jakarta dan Depok - Jawa Barat), penerbitan (Jakarta), dan sebagainya.
Saran saya untuk teman-teman bagian SDM atau TI yang ingin memudahkan karyawan awam bisa menggunakan Linux, sodorkan komputer yang telah terinstal Linux popular seperti BlankOn, Mandriva, Nusantara, openSUSE, dan yang sejenis. Jangan suruh belajar Linux sebelum menggunakan Linux, apalagi suruh install Linux. Kalau disuruh belajar dulu, pasti akan mengeluh atau kesulitan. Langsung pakai komputer Linux, dijamin bisa Linux, selama bisa menggunakan mouse dan keyboard.
Linux baru perlu dipelajari jika pengguna ingin menjadi Linux admin (system/network administrator) atau technical support dan profesi Linux lainnya, bukan sekadar pengguna Linux. :-)
Subscribe to:
Posts (Atom)
