Saturday, October 24, 2009

Open Source itu Netral

Ketika para pengguna, pengembang, pebisnis, pencinta, dan pendukung Open Source meminta pemerintah RI fokus ke pemanfaatan softawre yang dikembangkan dengan cara Open Source atau konsep pengembangan software dengan cara gotong-royong, sebagian pihak memrotes dengan alasan itu tidak netral. Tuduhan tidak netral itu salah, karena Open Source bukan nama vendor, bukan nama produk, bahkan bukan nama teknologi. Kalau memihak ke BlankOn saja misalnya, baru itu tidak netral dipandang dari sudut globalisasi saat ini. Belum tahu ke depan. :-)

Pada awalnya, semua software dikembangkan dengan konsep Open Source. Baru setelah ada UU Hak Cipta tentang software, ada gerakan Closed Source atau Proprietary. Jadi, Closed Source atau proprietary hal itu baru. Istilah Open Source baru heboh, setelah dunia ICT dikuasasi (cenderung di-monopoli) software proprietary.

Open Source hanya cara orang membuat dan mendistribusikan software. Siapa pun dapat dan boleh berbisnis dengan konsep Open Source. Perusahaan yang selama ini terkenal dengan bisnis software proprietary (biasanya tidak Open Source), tidak bisa lepas dari nurani (hakiki) pengembang software, bahwa semua sofwtare dan ICT lainnya sewajarnya Open Source. Salah satu bukti, cek info berikut ini:
Pebisnis Software sewajarnya Open Source.

Bagaimana pendapat Anda?

Monday, September 28, 2009

ILC, GCOS, RMS, Olimpiade Office, dll.

Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 telah mengilhami beberapa personal, organisasi profesi, komunitas, sekolah, lembaga pemerintah dan swasta, serta perguruan tinggi di Indonesia untuk berbuat sesuatu yang beda pada Oktober 2009 ini. Setahu saya, semua itu bukan asal beda, tapi kegiatan yang menguras fisik dan psikis untuk memajukan TIK Indonesia dengan memasyarakatkan peranti lunak Merdeka/Open Source.

Kegiatan itu antara lain:
  • ILC 2009 (Indonesian GNU/Linux Conference) di Unhas Makassar, 10-11 Oktober 2009.
  • GCOS (Global Conference on Free/Open Source Software), di Shangri-La Hotel Jakarta, 26-27 Oktober 2009.
  • RMS (Richard M. Stallman) Berbicara tentang Free Software dan GNU/Linux, di Gedung BPPT Jakarta, 28 Oktober, dan di Univ Indonesia Depok (tentative, 29 Oktober).
  • Juga beberapa kegiatan serupa di Univ Negeri Padang (tentative 17-18 Oktober), Univ Merdeka Malang (tentative 19 Oktober), Univ Persada Indonesia YAI Jakarta (tentative 28 Oktober), dan final Olimpiade Office Open Source (ODF Olympiad) di Jakarta 24-25 Oktober 2009.
Menurut sumber-sumber yang dapat dipercaya, berbagai kegiatan yang sejalan dengan usaha kemandirian dan kemerdekaan di bidang TIK ini juga berlangsung di berbagai sekolah, pesantren, lembaga pemerintah, BUMN, dan perusahaan swasta.

Semoga semua kegiatan itu tidak hanya berhenti di kegiatan sesaat atau seremonial, tapi benar-benar menggugah semangat dan menggerakan seluruh fisik dan psikis peserta dan panitia untuk berbuat nyata dalam penggunaan software legal berbasis software merdeka (Free Software) atau terbuka (Open Source Software) untuk kehidupan yang lebih baik.

Selamat berjuang kawan-kawan, masa depan TIK Indonesia ada di tangan-tangan kalian.
Merdeka!

Sunday, August 30, 2009

Idul Fitri 1430H Jatuh pada 20 September 2009

Ini bukan ramalan, prakiraan, atau prediksi. Anda dapat melakukan pengamatan dan perhitungan yang sangat akurat dengan Linux, berdasarkan ketentuan Tuhan bahwa matahari, bulan, dan bumi beredar pada garis edarnya dengan sangat teratur. Tidak pernah sedetikpun bulan berhenti mengitari bumi, dan tidak pernah sedetikpun bumi bersama bulan berhenti mengitari matahari. Kecuali Tuhan menghendaki lain, misalnya Tuhan menghentikan gerakan bumi sedetik saja, yang artinya hari kiyamat telah datang sebelum 1 Syawal 1430H.

Jadi, keteraturan yang luar biasa atas kehendak Tuhan Sang Pencipta alam semesta itu menjadikan manusia dapat menentukan kapan 1 Syawal dengan tepat. Kalau pun terjadi perbedaan orang menetapkan 1 Syawal, bukan karena perbedaan edar matahari, bumi, dan bulan, tapi karena perbedaan kriteria dan acuan dalam menentukan bulan sabit (hilal). Para ahli falak melakukan penentuan 1 Syawal melalui Rukyatul-Hilal atau melihat bulan sabit.

Ada beberapa kriteria rukyatul hilal, dua di antaranya yang banyak digunakan di Indonesia adalah wujudul-hilal dan imkanur-rukyat. Kedua kriteria itu kadang menghasilkan ketetapan 1 Syawal berbeda, meskipun sama-sama menetapkan ada bulan (hilal) saat matahari terbenam. Bahkan, kriteria yang sama belum tentu menghasilkan ketetapan yang sama, misal karena perbedaan tempat acuan (tempat melihat bulan).

Kriteria wujudul hilal menetapkan 1 Syawal bila bulan telah berada di atas ufuk (horizon) saat matahari terbenam, tanpa menentukan minimal ketinggian bulan. Kriteria imkanur rukyat menetapkan 1 Syawal bila bulan telah berada di atas ufuk saat matahari terbenam, dengan ketinggian bulan minimal antara 2 hingga 8 derajad. Ketentuan tinggi minimal bulan sabit ini terkait dengan bisa tidaknya dilihat oleh teropong atau mata.

Pada 2009 ini, insya Allah kedua kriteria itu akan menghasilkan ketetapan yang sama, yaitu bulan telah berada di atas ufuk (sekitar 5 derajad) saat matahari terbenam pada Sabtu 19 September 2009. Sehingga besoknya Minggu 20 September 2009 adalah 1 Syawal 1430H. Karena 1 Syawal jatuh pada hari libur (Minggu), maka pemerintah Indonesia menggeser libur lebaran menjadi Senin dan Selasa (21-22 September 2009).



Namun, ketentuan akhir tetap di tangan Tuhan, sehingga kita tetap harus menunggu 19 September 2009 sore untuk "memastikan" 1 Syawal. Siapa tahu kiyamat datang sebelum itu. Ya, iyalah...

Bagaimana menentukan 1 Syawal dengan Linux? Anda dapat menggunakan kstars atau stellarium yang telah ada di Linux LiveCD Sabily 9.04. Petunjuk selengkapnya dan Linux Sabily itu tersedia di majalah InfoLINUX edisi 09/2009 yang saat ini sedang beredar. :-)

Sunday, August 16, 2009

Buat apa Indonesia merdeka? Buat apa Linux open source?

..........Introspeksi sejenak menyambut hari kemerdekaan RI dan TIK.........

Di bidang negara, mengapa para pendiri negara kita memilih merdeka? Mengapa tidak bergabung saja dengan Jepang atau salah satu negara sekutu, Amerika atau Belanda atau yang lain? Kan tinggal pakai aturan yang ada, tinggal menikmati jabatan, tidak perlu perang, apalagi harus gerilya, tidak perlu menyusun undang-undang, tidak perlu belajar ilmu membangun negara baru, yang penting enak to? Mengapa hayo?

Karena, para Bapak Bangsa (the founding fathers) negara kita, saya dan juga Anda, ingin kedaulatan (menentukan nasib sendiri), punya kebebasan dalam mengelola negara, menentukan bentuk negara, bisa menjaga keamanan negara, mengatur sendiri kekayaan dan keuangan negara, tidak diatur pihak lain, apalagi pihak lain itu terbukti hanya mencari keuntungan sendiri.

Di bidang TIK, mengapa pakai Open Source atau software merdeka? Mengapa tidak ambil saja yang ada (Proprietary)? Kan tinggal pakai, tidak perlu mengubah kebiasaan, tidak perlu belajar, tidak perlu mengembangkan software sendiri, yang penting enak to? Mengapa hayo?

Karena, kami dan juga (saya yakin) Anda, ingin kedaulatan dalam menggunakan software, menentukan program apa yang mau kita pakai, mengatur sendiri bagaimana menyebarkan program, bisa menjaga keamanan software, mengatur sendiri bisnis software, tidak diatur pihak lain, apalagi terbukti pihak lain itu hanya mencari keuntungan sendiri.

Lalu apa hubungan Kemerdekaan 17 Agustus dengan Linux dan Open Source? Sistem operasi adalah tulang punggung semua komputer/gadget yang kita gunakan, dan Linux itu tokoh popularnya. Kalau kita ingin bebas dari tekanan pihak luar (untuk membayar lisensi mahal), bebas dari virus, bebas dari dosa (membajak software), bebas mengembangkan sendiri, dan bebas dari ketergantungan, maka kita harus merdeka di bidang TIK dengan menggunakan Linux atau program open source atau free software lainnya.

Memang kita belum bisa lepas 100% dari negara lain, tapi kita ingin semakin merdeka dalam mengelola negara. Memang kita belum bisa lepas 100% dari software lain, tapi kita ingin semakin merdeka dalam mengelola TIK.

Negara Indonesia: Sekali Merdeka Tetap Merdeka!
TIK Indonesia: Sekali Merdeka Tetap Merdeka!

Free bukan Gratis, Free adalah Freedom alias Merdeka!
...................................................

Monday, July 27, 2009

Pengguna Linux tidak harus Belajar Linux

Dari hasil pengamatan dan wawancara kami ke para karyawan di berbagai perusahaan, terutama yang tidak memiliki latar pendidikan komputer, kami tidak banyak menemukan keluhan atau kesulitan pengguna ketika pertama menggunakan Linux. Mereka tidak melalui proses belajar lebih dulu, tapi langsung menggunakan komputer yang telah terinstal Linux untuk bekerja. Kalau pun belajar, biasanya belajar sambil bekerja.

Kelompok pengguna awam yang kami temui adalah pengguna komputer untuk perkantoran. Program yang digunakan antara lain OpenOffice (Office yang otomatis ada di umumnya Linux), program untuk mengakses web, email, dan chatting, program untuk mengedit foto, serta sebagian juga pakai program untuk memutar lagu dan film.

Beberapa perusahaan yang kami kunjungi itu juga bukan perusahaan TI. Sedikit contoh jenis usaha dan lokasinya adalah perusahaan farmasi (di Solo dan Semarang, Jawa Tengah), kargo/kurir (di Jakarta dan Cengkareng - Banten), otomotif (Jakarta dan Depok - Jawa Barat), penerbitan (Jakarta), dan sebagainya.

Saran saya untuk teman-teman bagian SDM atau TI yang ingin memudahkan karyawan awam bisa menggunakan Linux, sodorkan komputer yang telah terinstal Linux popular seperti BlankOn, Mandriva, Nusantara, openSUSE, dan yang sejenis. Jangan suruh belajar Linux sebelum menggunakan Linux, apalagi suruh install Linux. Kalau disuruh belajar dulu, pasti akan mengeluh atau kesulitan. Langsung pakai komputer Linux, dijamin bisa Linux, selama bisa menggunakan mouse dan keyboard.

Linux baru perlu dipelajari jika pengguna ingin menjadi Linux admin (system/network administrator) atau technical support dan profesi Linux lainnya, bukan sekadar pengguna Linux. :-)

Sunday, June 07, 2009

Seandainya Aku Jadi... hanya tahu BlankOn

Tulisan ini terinspirasi dari posting di milis UMS Goes Open Source yang bersumber dari Forum di MyQuran.org.

Jika Anda pertama kali membeli komputer dan menginstalnya dengan CD Linux, misalnya BlankOn, apa yang Anda rasakan? Anda akan menyimpulkan bahwa Linux itu sistem operasi komputer yang siap pakai. Dengan sebuah CD Linux, Anda dapatkan pula OpenOffice, pengedit foto GIMP, penggambar Inkscape, pengelola projek Planner, akuntansi GnuCash, dan lain-lain. Semua program itu terpasang secara otomatis saat pertama menginstal komputer dengan sebuah CD BlankOn.

Jika kemudian karena alasan politis atau bisnis Anda diminta berpindah ke sistem operasi lain dan diberikan sebuah DVD Windows misalnya, apa yang Anda pikirkan? Di benak Anda DVD Windows tentu juga berisi MS Office, Photoshop, CorelDraw, MS Project, Zahir Accounting, seperti CD BlankOn yang Anda punya sebelumnya. Tapi apa yang terjadi, Anda akan kecewa berat, bahkan bisa frustrasi, karena setelah DVD Windows terinstal, tidak ada Office, Photoshop, CorelDraw, MS Project, dan Zahir. Anda harus beli satu per satu dan instal satu per satu.

Kalau Anda tidak sabar, Anda bisa depresi berat. Mengapa? Karena Anda akan sangat repot, harus beli beberapa DVD dengan membayar biaya surat izin (lisensi) yang jauh lebih mahal dibanding harga komputer Anda. Lalu instal beberapa CD/DVD itu satu per satu, dan Anda juga harus menyetujui surat izinnya satu per satu pula, meskipun Anda sudah membayar sebelumnya yang berarti sudah setuju. Bayangkan, betapa susahnya jika tidak ada Linux/FOSS.

Anda beruntung karena lebih dulu kenal Windows, sehingga menjadi mudah ketika diminta berpindah ke Linux. Dengan sebuah CD, Anda dapatkan semuanya...tanpa biaya izin. Mari sampaikan rasa terima kasih kita kepada para pengembang Linux dan FOSS lainnya, tidak perlu dengan ucapan, apalagi bayaran, cukup dengan menggunakan Linux BlankOn. :-)

Ingin tahu lebih jauh tentang BlankOn? Ikutilah Konferensi BlankOn Pertama di dunia, pada Sabtu dan Minggu, 20-21 Juni 2009, di Universitas Pakuan Bogor, Indonesia.

Wednesday, May 27, 2009

Mimpi Indah dan Mimpi Sedih Blogger

Sangat indah menjadi rakyat sebuah negara atau minimal kabupaten/kota yang sepenuhnya menggunakan Linux dan/atau software open source lainnya. Tidak ada rahasia di bidang software, kecuali sebagian datanya yang memang harus dirahasiakan. Tidak ada biaya lisensi, sehingga uang rakyat dapat lebih banyak digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Tidak ada ketergantungan, sehingga pemerintah dan rakyat bebas menggunakan dan mengembangkan TIK-nya.

Masih indah jika untuk sementara waktu ada sebagian kecil komputer yang menggunakan sistem operasi proprietary karena ada software aplikasi yang belum dapat dijalankan dengan Linux, sambil menunggu aplikasi itu tersedia versi open source-nya.

Betapa sedihnya jika tiba-tiba semua rumus matematika, fisika, elektronika, dan semua protokol seperti TCP/IP (jaringan internet), HTTP (web), SMTP (email), serta semua program open source dipatenkan atau dijadikan proprietary. Dunia ini akan terasa gelap, karena untuk mengakses internet harus lebih dulu membayar semua paten ilmu-ilmu dan protokol-protokol dan lisensi program-program yang membuat internet dan berbagai aplikasinya bebas dan terbuka seperti sekarang ini.

Bersyukurlah ada banyak ilmuwan dunia yang tidak mematenkan rumus/algoritmanya, ada banyak programmer dunia yang tidak meminta bayaran atas lisensi programnya, dan ada banyak orang yang sepakat bahwa ilmu pengetahuan dan software semestinya merdeka dan terbuka (free/open).

Ingin mimpi indah sambil nge-blog? Gunakan Linux sebagai pengganti Windows, OpenOffice sebagai pengganti MS Office, GIMP sebagai pengganti Photoshop, dan Firefox sebagai pengganti IE untuk urusan blog Anda. Catatan: Linux, OpenOffice, GIMP, dan Firefox hanya 4 contoh program komputer merdeka.