Beberapa teman dari perusahaan yang membutuhkan sarjana komputer curhat ke saya, di era internet dan open source ini masih sulit mendapatkan karyawan baru yang punya ilmu dasar komputer dan skill yang sesuai kebutuhannya. Misal sarjana komputer (D3/S1) yang faham konsep pemrograman dan networking, plus terampil menggunakan Linux dan membuat program php atau java dengan database mysql. Saya rasa ini masalah klasik atau sudah lama terjadi, tapi mengapa masih belum banyak solusi, ya?
Ketika masalah itu saya bawa ke beberapa teman di perguruan tinggi yang mengelola program studi TI, SI, IL, MI, komentarnya beragam. Ada yang komentar, perguruan tinggi tidak wajib memberikan keterampilan tapi cukup memberi pemahaman atau konsep. Ada lagi yang komentar, perguruan tinggi sudah memberikan skill, tapi tidak dengan produk terbaru karena perubahan yang cepat tidak mampu diikuti para dosennya, misal Linux, PHP, Java, dan MySQL. Lalu ketika saya bawa kembali jawaban itu ke teman yang butuh karyawan, dia/mereka bilang terlalu mahal bagi perusahaan kalau harus memberikan training kepada karyawan baru sebelum diberi tugas di bidang networking dan pemrograman atau pengembangan sistem informasi perusahaan.
Apa akibat dari masalah ini? Bukan berdasar survey tapi info dari teman di pemerintah, pengangguran lulusan komputer masih tinggi, tapi lowongan tenaga ahli TIK tetap tidak mudah terisi. Solusinya, harus ada perguruan tinggi yang berani memadukan konsep dan skill, dengan risiko biaya operasional pendidikan jadi lebih besar dari umumnya perguruan tinggi lain, misal dengan selalu memberikan update ilmu/skill TIK yang cepat berubah ini. Contoh perguruan tinggi komputer yang sejak semester pertama hingga lulus memberikan skill Linux/Open Source selain konsep-konsep dasar itu adalah STT Terpadu Nurul Fikri.
Cerita seputar pendidikan teknologi informasi dan produk-produk yang dikembangkan dengan cara Open Source seperti Linux, Android, LibreOffice, dan lain-lain.
Showing posts with label open source software. Show all posts
Showing posts with label open source software. Show all posts
Tuesday, September 25, 2012
Wednesday, September 29, 2010
Menyambut Temu Komunitas Linux Indonesia
Menyambut Temu Komunitas Linux Indonesia
Komunitas Linux Indonesia setiap tahun sejak 2006 menggelar pertemuan darat yang dihadiri perwakilan dari berbagai komunitas Linux di Indonesia sebagai rangkaian acara ILC. Nama acara itu dulunya KPLI Meeting, dan pada 2010 di Bogor ini diubah atau diberi nama kedua sebagai Linux Community Meeting, disingkat LCM. Penyelenggara KPLI Meeting aka LCM itu berpindah dari kota ke kota, dan tidak mustahil bisa berpindah dari desa ke desa.
Komunitas Linux di Indonesia terdiri atas berbagai komunitas pengguna Linux, pengembang Linux, pencinta Linux, pendukung Linux, dan siapa pun yang setuju Linux berkembang di Indonesia. Ada komunitas yang hanya fokus mengelola kolaborasi melalui internet tanpa batas wilayah, yaitu linux.or.id. Ini komunitas yang tetap eksis sejak akhir 1990-an hingga kini. Linux.or.id sangat dibutuhkan komunitas lain, di antaranya karena nama domain linux.or.id digunakan oleh komunitas lain yang menjadi sub domainnya, misalnya aceh.linux.or.id, bandung.linux.or.id, jakarta.linux.or.id, dan lain-lain.
Komunitas Linux di Indonesia tidak seperti organisasi TIK lainnya yang memiliki struktur pusat dan daerah. Semua komunitas Linux yang ada di Indonesia itu sejajar. Penamaan komunitas juga tidak ada aturan baku, misal harus ada kata KPLI (Kelompok Pengguna Linux Indonesia), tapi boleh menggunakan nama lain misalnya GRUB untuk KPLI Bogor, KLAS untuk KPLI Surabaya, dan sebagainya. Komunitas Linux di Indonesia juga tidak harus pakai nama Linux, karena bisa jadi komunitas itu tidak membahas sistem operasi Linux tapi lebih fokus ke bahasa pemrograman yang dapat jalan di Linux, atau komunitas aplikasi yang jalan di Linux, misalnya komunitas PHP, Java, Blender, atau free/open source software lainnya yang jalan di Linux. Tidak menutup kemungkinan, komunitas software proprietary yang jalan di Linux pun bisa bergabung dalam komunitas Linux Indonesia.
Tuesday, May 18, 2010
Apa sih Kebangkitan Nasional itu?
Apa sih Kebangkitan Nasional itu?
Mengapa kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional? Salah satu alasannya, peristiwa penting dalam proses menuju Indonesia merdeka adalah adanya gerakan kebangkitan nasional yang ditandai dengan kelahiran organisasi Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.
Lalu dikaitkan dengan kehidupan kita yang tidak lepas TIK (komputer dan internet), apa sih kebangkitan nasional di era informasi ini? Apakah Anda setuju dengan 3 jawaban berikut ini?
- Bangkit di era informasi artinya membangun negara berbasis TIK dengan bergantung sepenuhnya kepada produk luar negeri yang tidak bisa kita kuasai sepenuhnya.
- Bangkit di era internet artinya mengeruk sebanyak mungkin kekayaan alam seperti minyak, gas, hutan, emas, perak, tembaga, dan lain-lain untuk membeli lisensi dari luar negeri.
- Bangkit agar tak tertinggal di bidang TIK artinya harus melawan hukum dan etika dengan membajak software.
- Kita bangsa yang mampu mandiri, dengan SDM yang sangat mumpuni, terbukti hampir semua olimpiade ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk TIK, SDM kita mampu menjadi juara.
- Devisa yang kita miliki dari hasil kekayaan alam itu tidak perlu banyak "dibuang" ke luar negeri untuk urusan software, karena kita mampu menguasai pengembangan software dengan menerapkan konsep Open Source atau Free Software. Misal kita punya Rp 10 trilyun untuk membeli lisensi, maka uang Rp 10 trilyun itu lebih dari cukup untuk mengembangkan dan mengimplementasikan Open Source di dalam negeri, sehingga meminimalisasi biaya lisensi selain meningkatkan kemampuan SDM dalam negeri.
- Selain kita punya SDM yang mumpuni, kita bangsa bermartabat, mampu mandiri, dan punya dana untuk membiayai sendiri, maka dipastikan kita tidak perlu mengambil jalan pintas dengan membajak software, karena sangat jelas semua hukum formal dan hukum Tuhan melarangnya.
Merdeka!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)