Mengapa Menolak Linux?
Linux dan berbagai program yang tersedia untuknya telah diterima oleh jutaan komputer "server" di dunia. Linux (Android) juga telah diterima oleh ratusan juta hingga milyaran komputer "jaman sekarang" berbentuk tablet PC dan handphone. Definisi PC di sini adalah komputer untuk bekerja personal. Jika
tanpa kata tablet, maka PC dapat berbentuk desktop (komputer di meja) atau
laptop (komputer di pangkuan, notebook atau netbook).
Jika Anda penasaran Linux untuk server, gunakan www.netcraft.com untuk mengetahui sistem operasi (OS) apa yang digunakan oleh server-server raksasa milik "perusahaan-perusahaan raksasa". Misalnya semua server dengan sub domain google.com, demikian pula search.microsoft.com menggunakan OS Linux.
Lalu, mengapa ada PC dan penggunanya "menolak Linux" padahal banyak server dan penggunanya menerima GNU-Linux, dan banyak pengguna tablet/handphone menerima Android-Linux?
Berdasarkan pengamatan dan pengalaman di Indonesia, adanya PC dan penggunanya "menolak Linux" antara lain disebabkan oleh salah satu atau beberapa hal ini:
Open Source itu netral. Open Source itu adil (fair). Open Source itu kebersamaan. Dan Linux itu Open Source.
Jika Anda penasaran Linux untuk server, gunakan www.netcraft.com untuk mengetahui sistem operasi (OS) apa yang digunakan oleh server-server raksasa milik "perusahaan-perusahaan raksasa". Misalnya semua server dengan sub domain google.com, demikian pula search.microsoft.com menggunakan OS Linux.
Lalu, mengapa ada PC dan penggunanya "menolak Linux" padahal banyak server dan penggunanya menerima GNU-Linux, dan banyak pengguna tablet/handphone menerima Android-Linux?
Berdasarkan pengamatan dan pengalaman di Indonesia, adanya PC dan penggunanya "menolak Linux" antara lain disebabkan oleh salah satu atau beberapa hal ini:
- PC itu berisi perangkat keras yang belum mendukung Linux, misalnya printer dan scanner merek dan tipe tertentu.
- Pengguna PC itu membutuhkan program yang tidak dapat dijalankan di Linux, misalnya RKAKL yang saat ini dipakai pemerintah Indonesia dan games yang saat ini masih popular.
- Pengguna PC itu diperintah oleh atasan atau bosnya untuk membuat dokumen perkantoran (teks, spreadsheet, presentasi, gambar) atau tugas lain yang harus dijalankan dengan sistem operasi bukan Linux.
- Pengguna PC telah mendapatkan program bukan Linux dalam PC yang dibelinya, sehingga selama memakai PC tidak mengenal Linux. Tak kenal, maka tak sayang.
- Pengadaan barang/jasa di berbagai instansi tidak mensyaratkan Open Source dan bahkan mengarah ke merek tertentu, sehingga Linux tidak memenuhi ketentuan pengadaan.
- Beli PC atau perangkat keras PC yang telah mendukung Linux, misalnya (bukan promosi, hanya contoh) printer LaserJet/Deskjet HP, printer dan scanner Canon MP287 (meskipun harus download driver lebih dulu), dll.
- Meminta pemerintah memberikan program yang wajib dipakai bisa jalan atau diakses dari Linux, misalnya tersedia RKAKL versi Linux atau versi web yang dapat diakses dari browser web di Linux.
- Membuat kesepakatan bersama para pengguna PC, termasuk pemimpinnya atau atasannya, untuk menggunakan program yang sesuai dengan standar dokumen perkantoran yang telah menjadi SNI (Standar Nasional Indonesia) dan ISO/IEC 26300, yakni OpenDocument Format, misalnya OpenOffice dan LibreOffice.
- Memesan ke toko/penjual PC atau pemenang lelang pengadaan PC untuk memasang Linux dan semua program penting seperti Open/LibreOffice, Gimp, Inkscape, dan lain-lain pada komputer yang dikirimnya.
- Memberi tahu kepada para penyusun dokumen pengadaan barang/jasa pemerintah, swasta, dan lembaga pendidikan tentang prinsip dasar bahwa Open Source itu netral. Jika syarat pengadaan menyebutkan harus Open Source, maka siapa pun dapat menyediakannya, karena tidak ada software yang tidak dapat dijadikan Open Source jika pembuatnya "mau".
Open Source itu netral. Open Source itu adil (fair). Open Source itu kebersamaan. Dan Linux itu Open Source.
Comments
Yang begini butuh penyesuaian sedikit lebih lama...
Pengguna yang sama sekali baru walaupun anak-anak TK dan SD sekalipun, jauh lebih mudah mengerti...
Perkenalan pertama ternyata ada pengaruhnya juga! :-)
Alasan yg sering digunakan user dikantor saya.
Dalam menentukan materi ajar dan ujiannya, para guru (MGMP TIK) dan dinas pendidikan BISA menentukan software apa yang akan digunakan untuk belajar dan ujian. Tidak harus mengikuti "paksaan" untuk menggunakan software proprietary.
ada lagi saat belajar di SMU menggunakan OPEN OFFICE tapi ketika kuliah menggunakan EXCEL (atau sebaliknya)...ini salah pengajar yg menggunakan soft property atau menyangkut tentang dunia kerja yg akan dihadapi oleh para siswa...???
karena linux opensource.
sedangkan os lain contoh win closesource, knp dia bisa support dengan device yang begitu banyaknya...
mudah kan utk menjawab semua itu, tinggal kita liat lagi itu sorcenya...itu jwb pakar....
Katakanlah kasusnya begini :
Perusahaan besar yang memiliki 1000 cabang, ketika pindah Linux maka pertanyaan berikut muncul :
- Siapa yang support OS ?
- Siapa yang support hardware ?
- Siapa yang support aplikasi A ?
- Siapa yang support aplikasi B ?
- dll
Aplikasi2 bisnis serius apa yang tersedia di Linux ? Siapa yang support ?
Secara realistis, berapa entitas baik perusahaan / komunitas yang bisa support ini ?
Salam,
Pelaku Bisnis IT
orang belum pake linux karena linux butuh internet untuk terus maju (pengalaman ane pas nginstall kompi family ane di dusun...)
Mungkin secara filosofis atau konsep, Opensource dan gerakan free software itu mengutamakan keadilan, kebersamaan, dan netralitas. Tapi menurut saya, dalam penerapannya, keadilan dan netralitas itu belum dicapai. Entah ini karena sistem, atau kompetensi orang-orangnya (itu berarti semua praktisi).
Penggunaan resource linux saat ini sangat besar, tidak ada bedanya dengan windows atau Mac. Distro keluaran baru-baru ini mensyaratkan ram minimal 512mb. Komputer pentium 4 dengan ram 256 saat ini masuk "kategori puppy", maksudnya, kalau kita bertanya ke forum2 distro apa yang cocok, pasti langsung dirujuk ke distro "ringan" seperti puppy atau Damnsmalllinux.
Masalahnya, sebagian besar software productivity atau yang sehari-hari digunakan selalu "dirancang" untuk distro mainstream, "saja". Mulai dari paket instalasi, support, cara instalasi dan troubleshooting, umumnya dirancang untuk distro buntu-buntu atau berbasis rpm.
Pengguna linux lighweight, atau bahkan slackware yang "cukup mainstream" sekalipun, harus melakukan segalanya secara manual, edit sana-sini, kompilasi sendiri. Pekerjaan yang memakan waktu dan tidak mudah bagi pemula, atau orang-orang yang bidangnya bukan IT. Okelah, beberapa distribusi memang ditujukan untuk poweruser, tapi karena keterbatasan kemampuan hardware, non-poweruser jadi terpaksa menggunakan distro poweruser yang ringan.
Apakah non-poweruser harus selalu membeli hardware terbaru agar pekejaan biasa seperti browsing, mengetik, mengolah data, pekerjaan2 yang tidak berbeda jauh dengan 5 tahun lalu, bisa dilakukan dengan mudah? Bagaimana jika tidak ada dana? Dimana keadilan dan kebersamaan?
(Maaf, ini agak emosional)
Jika memang komputer Anda agak "jadul" dan msh. ckp. berat mnjalankan distro linux yg. lahir belakangan ini, bisa diinstall dgn. distro linux yg. waktu "lahirnya" kira2 bersamaan dgn. waktu lahirnya hardware komputer Anda ...
Redhat 7.3 dgn aplikasi StarOffice 5.2 / OpenOffice 1.1 dan Printer canon sp100 masih bisa berjalan di komputr. "jadul" sy. dgn. spek PII 400 ram 128 Mb. VGA Matrox 8Mb ... Masih bisa produktif :) (y) ...
Tetangga, sy installkan Mandrake 9.2 di komputer Celeron 667 Ram 192 Mb. ...
Di netbook intel atom dgn. hrga +- 2.7 jt. (relatif murah, kan?) sy. installkan distro Pinguy 11.04 (turunan ubuntu 11.04) dgn. LibreOffice 3, Inkscape, gimp, semua efek 3D desktop-nya jlan. mulus ...
Kalo mau pake komputer y harus belajar jd. operator komp. Kl. mau bisa mengoperasikan linux y hrs belajar linux (g susah kl. memang niatnya "mau").
Kl. mmg masih dirasa sulit, y daripda beli software propietary yg. mahal lbh baik buat kursus linux ... :) dapat tmbah ilmu ...
Kl. malas y pake mesin ketik saja ...(kecuali pk.software propietary bajakan, apa iya begitu ???)
Pilihan ditangan kita msing2, baik buruknya sesuatu trgantung sudut pandang kita melihatnya dan bagaimana kita menyikapinya ...
Selalu ada pro kontra, selalu ada setuju tidak setuju dll. ...
mengapa banyak dari kita menganjurkan (baik ke orang pribadi, swasta, instansi pemerintah) untuk memakai linux? apakah karena linux itu open source dan gratis sehingga dapat menekan biaya? biaya yg minim dan terbuka sehingga dapat mengurangi kecurangan dalam anggaran belanja? apakah linux itu lebih baik dari os propietary? apakah karena linux itu lebih aman?...
beberapa hal (pengalaman saya pribadi) malahan saat saya mencoba membudidayakan linux, baik di lingkungan keluarga, teman, dan kantor, hampir semua dari mereka bilang bahwa linux itu tidak nyaman dan sulit. saya bertanya kenapa tidak nyaman dan sulit? ternyata persoalannya kembali kepada kompatibilitas dan pembelajaran.
yg di kantor sempat pusing dikarenakan ada dokumen dari pusat (dan juga banyak sekali dari pihak luar) yg memakai office dengan equation (rumus) dan ketika dibuka di libre gak nongol rumusnya, nah loh. ada lagi yg menerima file spreadsheet excel dibuka pakai libre malah jadi amburadul. ini masih ada masalah kompatibilitas antar aplikasi. dan untuk mencoba merestruktur dokumen tadi mereka butuh waktu lagi dan akan menjadi masalah apabila ada hal yg tidak mereka ketahui...
secara umum dari banyak pihak yg saya hadapi saya mendapatkan kesimpulan bahwa mereka yg enggan memakai linux karena mereka tidak mau belajar lagi sesuatu hal yg baru. sesuatu hal yg baru yg menurut mereka sangat teknis. maka dari itu ada baiknya dari kita untuk mengenalkan linux secara menyenangkan dan nyaman. kenalkan linux yg mudah dan siap pakai, tanpa mengharuskan mereka belajar hal-hal teknis tadi. kita tidak dapat memaksa orang untuk menyukai sesuatu yg jelas tidak membuat mereka nyaman. nyaman bagi kita belum tentu kata mereka. dan bisa dibilang "mereka" ini adalah orang-orang dewasa yg sudah sejak lama mengenal dan terbiasa dengan os propietary seperti ms windows. mungkin berjalan perlahan bisa, tetapi lebih penting lagi kalau kita menyiapkan anak-anak kita juga untuk mengenal linux sejak usia dini...
Baca lebih lanjut di posting saya.
salam
Kang Firman
Sayang sekali jg bahwa uang negara yg harusnya bisa untuk rakyat, digunakan buat beli produk2 mikocok yg sebenarnya tidak perlu karena sudah ada padanannya yg jauh lebih murah .... Ya namanya jg otak proyek,kl g gitu mana dapat proyek :D
dari beberapa tutorial dalam memecahkan masalah penggunaan aplikasi dari segi isi mungkin dikatakan cukup baik, tapi dari segi motivasi, inovasi dan pendekatan secara Open Source, saya menilainya kurang baik.
Banyak saya temukan tulisan yang membahas beberapa program emulator yang familiar bagi kita seperti VMWare, VirtualBox, wine dan lainnya. Masing-masing menjelaskan detail HOWTO-nya. Dari segi isi ini tidak masalah. Tapi pertanyaan saya adalah “Mengapa kita harus selalu kembali ke Windows dan aplikasinya, padahal kita sudah berada di dunia istimewa dengan Linux?” Bagi saya, kalau mau bangga dengan Linux maka pakailah aplikasi Open Source untuk semua kegiatan kita. Tinggalkan semua aplikasi Windows (apalagi itu bajakan).
Satu lagi yang menjadi kendala untuk migrasi adalah tentang GAME, harus diakui Linux dan Open Source masih sulit beradaptasi di bidang ini. Banyak hal yang menghambat di bidang ini.
Sebenernya kuncinya satu, kalau mau GAMING maka beli CONSOLE GAME (PS3, Nintendo, XBox, dsb). Titik.
Ingat, Microsoft dan perusahaan ‘proprietary’ lainnya tak pernah sudi pasarnya berkurang. Kita adalah bangsa dengan potensi pasar luar biasa, jumlah penduduk terbesar ke-4 didunia. Jika pemerintah mau meninggalkan ‘proprietary-centris’ dan mengalihkan alokasi dana infrastruktur IT dengan Open Source, maka berapa jumlah uang bisa dihemat dan diberikan untuk bidang lainnya?
Jika kita mengajak seseorang untuk memakai Linux maka kenalkan dia dengan program alternatif lain yang berfungsi sama dengan yang biasa ia pakai. Menyarankannya agar memakai program emulator hanya untuk menjalankan aplikasi Windows-based-nya bukan tindakan yang mendidik dan membangun.
Terakhir, untuk yang masih bermasalah dengan Open Source atau katakanlah tidak suka, it’s okay. tinggal bilang aja ... "Lanjutkanlah dunia anda, dunia yang sudah diciptakan oleh Bill Gate"
karena linux bukan untuk semua orang :D