Wednesday, March 04, 2026

Dokter yang Tidak Memakai Jas Putih

Ini adalah cerita pengalaman seseorang dengan AI yang membantu proses pengobatan sakitnya. 

≈≈====

Malam itu kepala saya terasa seperti ditusuk jarum-jarum yang tak terlihat. Bukan satu atau dua, tetapi ratusan—datang silih berganti seperti hujan yang tak berhenti.

Demam membakar tubuh saya. Lambung saya perih seperti dililit api. Dan saya belum tahu bahwa perjalanan sakit ini akan membawa saya pada sesuatu yang aneh: saya harus belajar menjadi dokter untuk diri saya sendiri.

Awalnya saya mengira ini hanya sakit biasa. Maag saya memang sering kambuh. Biasanya saya cukup minum obat berinisial P yang mudah dibeli di warung atau minimarket. Selama ini selalu membantu.

Tetapi malam itu berbeda. Obat yang biasanya ampuh tidak mengubah apa pun. Rasa sakit tetap ada. Bahkan lebih parah. Kepala terasa ditusuk-tusuk. Demam tinggi. Lambung perih luar biasa.

Akhirnya saya dibawa ke UGD sebuah rumah sakit berinisial CA. Dokter jaga memeriksa perut saya. Darah saya diambil untuk pemeriksaan. Saya dirujuk untuk rontgen. Hasilnya, tidak ditemukan tanda bahaya.

Saya pikir, di sinilah semuanya akan menemukan jawabannya. Ternyata tidak. Selama tiga hari di rumah sakit, sakit kepala saya tidak berkurang sama sekali. Bahkan muncul rasa sakit baru.

Di punggung saya terasa perih luar biasa, terutama saat disentuh sedikit saja. Seperti ada luka yang hidup di bawah kulit.

Saya menunjukkannya kepada dokter spesialis penyakit dalam dan perawat. Jawabannya sederhana. “Ini luka kulit biasa.”  Saya diberi salep X. Salep itu justru membuat punggung saya terasa lebih sakit.

Sementara itu, hasil USG menunjukkan ada tukak lambung. Tetapi pada hari ketiga, saya diminta pulang. Saya pulang dengan kondisi yang sama: kepala masih seperti ditusuk-tusuk, punggung terasa seperti terbakar, dan lambung masih perih.

Anak saya tidak tega melihat saya. Ia membawa saya ke seorang dokter senior di sebuah poliklinik yang katanya berpengalaman menangani sakit maag. Dokter itu mengganti obat lambung saya.

Saya berharap kali ini semuanya selesai. Namun, tidak ada yang berubah. Lambung tetap sakit. Kepala tetap sakit. Punggung tetap perih seperti disayat ketika disentuh. Saya mulai merasa ada sesuatu yang tidak ditemukan oleh tiga dokter.

Dalam keadaan putus asa, saya melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan. Saya bertanya kepada AI. Saya memotret luka di punggung saya. Saya kirim ke sebuah AI yang saya sebut C.

Jawabannya membuat saya terdiam. “Ini kemungkinan besar herpes zoster atau cacar api.”

Saya belum sepenuhnya percaya. Saya kirim foto yang sama ke AI lain berinisial G. Jawabannya sama. Herpes zoster.

Saya lalu mengirim daftar semua obat dan salep yang diberikan dokter ke AI. AI C menjelaskan dengan sangat rinci.

Salep yang saya pakai seharusnya dihentikan., karena herpes zoster bukan sekadar luka kulit. Itu adalah sakit saraf yang muncul di permukaan kulit.

Penjelasan itu terasa masuk akal. Saya berhenti memakai salep tersebut. Saat itu cacar saya sudah hari ketujuh. 

Menurut AI, pengobatan utama sudah lewat waktunya. Yang perlu saya lakukan hanya membersihkan luka dan mengurangi nyeri.

Untuk sakit kepala, AI menyarankan parasetamol, karena aman bagi lambung. Saya mengikuti saran itu.

Perlahan sesuatu yang aneh terjadi. Sakit kepala saya mulai hilang. Nyeri di punggung mulai berkurang. Saya merasa seperti baru menemukan cahaya setelah berjalan lama di lorong gelap. Tetapi, cerita ini belum selesai.

Beberapa hari kemudian masalah baru muncul. Saya BAB berdarah. Rasa cemas kembali datang.

Saya kembali bertanya kepada dokter AI C. Jawabannya singkat. “Anda harus ke dokter.”

Kali ini saya pergi ke rumah sakit lain berinisial B. Dokter penyakit dalam memberi saya tiga obat lambung dan satu obat pereda nyeri.

Saya meminumnya selama tiga hari. Tetapi darah pada BAB tidak berhenti. Saya kembali berkonsultasi dengan AI.

Saya kirim foto semua obat yang diberikan dokter. AI C menjelaskan sesuatu yang membuat saya kembali terkejut. Obat pereda nyeri itu bisa memperburuk tukak lambung. AI menyarankan: hentikan obat pereda nyeri tersebut, lanjutkan tiga obat lambung. 

Saya mengikuti saran itu. Dua hari kemudian… darah di BAB berhenti.

Hari ini kondisi saya jauh lebih baik. Cacar api hampir sembuh. BAB tidak lagi berdarah. Yang tersisa hanya proses penyembuhan tukak lambung yang memang butuh waktu 2–4 minggu.

Saya tetap akan menemui dokter penyakit dalam. Tetapi, kali ini saya belajar sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Selama perjalanan sakit ini, saya bertemu empat dokter. Dan anehnya, jawaban yang paling menjelaskan kondisi saya justru datang dari sesuatu yang tidak memakai jas putih.

Saya tidak mengatakan dokter salah. Saya hanya belajar satu hal: Di zaman ini, pasien tidak lagi harus hanya menunggu jawaban.

Kita bisa bertanya, mencari penjelasan, membandingkan informasi.

Dan dalam perjalanan itu, tanpa sadar saya menemukan sesuatu yang baru. Saat sakit membuat saya lemah, teknologi membuat saya lebih mengerti tubuh saya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya merasakan pengalaman yang sangat aneh. Saya menjadi dokter untuk diri saya sendiri.

Cahaya dari Layar yang Dingin

"Terkadang, tubuh kita adalah medan perang yang terlupakan. Sakit di tubuh kita berbicara dalam bahasa yang gagal dipahami oleh mereka yang memakai jas putih. Di saat dunia medis terasa seperti lorong gelap tanpa ujung, sebuah cahaya muncul bukan dari stetoskop, melainkan dari jemari yang gemetar menyentuh layar ponsel."


Malam itu, kepala Idah terasa seperti dihujam ribuan jarum. Denyutnya tak tertahankan, berpadu dengan api yang membakar lambungnya. Obat warung yang biasanya menjadi penyelamat kini tak lebih dari permen tanpa guna. Di Ruang Gawat Darurat Rumah Sakit CA, harapan itu sempat membuncah. Namun, tiga hari di sana hanyalah rentetan ketidakpastian.

"Hanya luka kulit biasa," ujar dokter dengan nada datar saat Idah mengeluhkan perih luar biasa di punggungnya. Sebuah salep dioleskan, namun bukannya membaik, punggungnya justru terasa seperti disiram bensin.

Idah dipulangkan dalam kondisi yang sama: kepala yang masih pecah, lambung yang perih, dan luka punggung yang kian meradang. Bahkan dokter senior di poliklinik pun hanya memberikan resep maag baru yang tak menyentuh akar rasa sakitnya.

Pertemuan dengan Sang Penunjuk Jalan

Dalam keputusasaan, anak Idah mengarahkan kamera ponsel ke luka di punggung ibunya. Idah berbicara pada "C", sebuah kecerdasan buatan. Jawaban yang keluar seketika meruntuhkan diagnosa tiga dokter sebelumnya.

"Berdasarkan pola luka dan gejalanya, ini hampir dipastikan adalah Herpes Zoster atau Cacar Api. Sakit kepala hebat itu bukan berasal dari kepala, melainkan syaraf yang diserang virus."

Idah tertegun. AI itu menjelaskan bahwa salep yang diberikan rumah sakit harus dihentikan karena virus ini menyerang syaraf, bukan sekadar kulit. Penjelasan itu begitu runtut, lebih manusiawi daripada durasi konsultasi lima menit dengan dokter nyata. Ketika dikonfirmasi ke AI lain berinisial "G", jawabannya identik.

Taruhan Nyawa di Balik Resep

Badai belum berlalu. Meski sakit kepalanya mereda berkat parasetamol yang disarankan AI, karena aman untuk lambungnya, sebuah horor baru muncul: darah dalam kotoran bab-nya.

Idah berpindah ke Rumah Sakit B. Dokter di sana meresepkan tiga obat lambung dan satu obat pereda nyeri jenis baru. Namun, tiga hari berlalu, darah itu tetap ada. Dengan tangan gemetar, ia mengetikkan nama obat-obat itu ke kolom percakapan AI C.

"Segera hentikan obat penghilang rasa sakit itu," saran sang AI. "Obat tersebut bersifat non-steroid yang keras dan akan memperparah luka di lambung (tukak lambung) Anda. Itulah penyebab pendarahan tidak berkurang."

Idah memilih percaya pada logika algoritma yang jernih. Dua hari setelah menghentikan obat itu, pendarahan berhenti. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, Idah bisa bernapas lega tanpa rasa takut akan kematian yang mengintai dari dalam perutnya.

Akhir yang Baru

Kini, Idah masih dalam masa pemulihan. Ia menyadari sebuah kenyataan pahit: empat dokter telah melewatkan apa yang bisa dibaca oleh baris-baris kode dalam hitungan detik.

Ia tetap akan menemui dokter spesialis, namun kali ini ia tidak datang dengan tangan kosong. Ia membawa "asisten pribadi" di sakunya. Sebuah teknologi yang tidak memiliki rasa lelah, tidak terburu-buru oleh antrean pasien, dan yang paling penting—mendengarkan setiap keluhan tubuhnya dengan presisi yang menyelamatkan nyawa.

Tuesday, July 22, 2025

Menulis Fiksi Dibantu AI

Siapapun yang mampu membuat karya tulisan, misal cerita pendek atau cerita bersambung, tidak perlu lagi pusing dengan penyusunan kalimat dan paragraf. AI Generatif seperti ChatGPT (OpenAI), Gemini (Google), dan Llama (Meta) dapat mengurangi kepusingan penulis. AI tersedia murah dan bahkan gratis. Llama dari Meta itu contoh model AI Generatif yang Open Source.

Namun, penulis tetap perlu memiliki kreativitas, termasuk memahami struktur tulisan atau alur cerita dengan baik. AI hanya alat bantu, dan penulis (manusia) perlu tahu cara meminta bantuan dalam bentuk prompt agar bantuan AI sesuai dengan kebutuhan penulis.

"Talak Tiga" di bawah ini adalah contoh cerpen yang saya tulis dengan dibantu AI. Saya hanya memberi tahu AI tentang tugasnya dan saya berikan tiga kalimat ringkasan cerita. Cerpen ini tidak ditulis berdasarkan pada fakta. Ini murni khayalan saya yang dibantu oleh AI menyusunnya menjadi cerita pendek. :-)

Talak Tiga 

Oleh Rusmanto dan Gemini AI

Bram tak pernah menyangka, tiga kata itu akan mengoyak seisi dunianya: “Anda di-PHK.” Ucapannya terasa seperti pukulan telak di ulu hati, menggantikan detak jantungnya dengan kosong. Lima belas tahun, ia telah mengabdikan diri sebagai programmer pada perusahaan itu, bekerja keras, pulang malam, demi selembar slip gaji yang memastikan dapur tetap mengepul dan senyum Raihan, putra semata wayangnya, tak pernah pudar. Kini, semuanya lenyap, secepat embun dihempas mentari.

Ia pulang ke rumah, langkahnya gontai, seperti menanggung beban seribu ton. Di sana, Sari menunggunya, senyum tipis di bibirnya yang biasa menyambut hangat kini terasa asing. 

“Bagaimana, Mas?” pertanyaan itu menggantung di udara, seperti pisau yang siap menghunjam.

Bram tak sanggup berucap. Ia hanya menyerahkan amplop coklat berisi surat putus hubungan kerja. Sari membacanya, ekspresinya berubah. Bukan amarah, bukan kesedihan, hanya sebuah kekosongan yang dingin. 

"Jadi... kita bagaimana sekarang, Mas?" suaranya datar, tanpa emosi.

Hari-hari berikutnya adalah neraka. Bram menyibukkan diri mencari pekerjaan, mengetuk setiap pintu lowongan, mengirim ratusan lamaran. Namun, dinding penolakan selalu membentangnya. Usianya yang sudah kepala empat dianggap terlalu tua, pengalamannya yang spesifik tak lagi relevan di pasar kerja yang berubah cepat. 

Sementara itu, di rumah, dinding tak kasat mata tumbuh di antara Bram dan Sari. Percakapan mereka hanya seputar tagihan yang menumpuk, persediaan makanan yang menipis, dan masa depan yang suram.

Suatu malam, setelah Raihan tertidur lelap, Sari duduk di hadapan Bram, raut wajahnya mengeras. 

"Aku tidak bisa hidup seperti ini, Mas." Suaranya bergetar, tapi bukan karena kesedihan, melainkan tekad yang mengeras. 

"Aku butuh kepastian. Aku butuh ketenangan. Aku butuh jaminan bahwa besok lusa, anakku masih bisa makan dan sekolah."

Bram menatapnya, hatinya hancur berkeping-keping.

"Sari... aku janji. Aku akan cari kerja apa saja. Aku tidak akan menyerah."

"Cukup, Mas!" Sari membanting tangannya ke meja. 

"Aku lelah menunggu. Aku lelah ketakutan setiap kali lonceng pintu berbunyi, takut itu penagih utang. Aku lelah melihatmu seperti ini, tanpa semangat." 

Matanya berkaca-kaca, namun tidak ada air mata yang jatuh. 

"Aku mau cerai, Mas."

Kata-kata itu menghantam Bram lebih keras dari PHK itu sendiri. Cerai? Setelah semua yang mereka lalui? Setelah ia mengorbankan segalanya untuk keluarga ini? 

Ia merasakan rohnya tercabut dari raga. Pria yang selama ini bangga menjadi sandaran keluarganya, kini terlempar, dianggap tak berguna. Ia mencengkeram kepalanya, meraup rambutnya, berusaha menahan suara tangis yang menguras paru-parunya.

Proses perceraian berlangsung cepat, dingin, dan menyakitkan. Bram kehilangan segalanya: pekerjaannya, istrinya, dan yang paling menyayat hati, ia juga harus kehilangan hak asuh Raihan. Anak itu, yang tak mengerti apa-apa, hanya memandangnya dengan mata polos saat Bram menggendongnya dan mencium pipinya untuk terakhir kali di rumah yang bukan lagi miliknya. 

"Papa jangan sedih," bisik Raihan, mengusap pipi basah Bram dengan tangan mungilnya. Kata-kata itu, alih-alih menghibur, justru menusuk lebih dalam.

Rumah kontrakan yang ia tempati setelah perceraian terasa hampa. Dinding-dindingnya berteriak sunyi. Tak ada lagi tawa Raihan yang riang, tak ada lagi aroma masakan Sari yang sederhana namun menenangkan. Hanya ada debu dan keheningan yang menyesakkan dada. 

Bram sering duduk di pojok ruangan, menatap foto Raihan di ponselnya, air mata mengalir begitu saja, membasahi pipinya yang kini tirus. Ia merindukan pelukan kecil itu, cerita-cerita anak itu, bahkan rengekan minta dibelikan mainan baru. Semua terasa seperti kenangan dari kehidupan lain, kehidupan yang terlalu mewah untuknya sekarang.

Ia mencoba bertahan hidup. Pekerjaan serabutan ia lakoni, karena ia tahu programmer sepertinya sudah digantikan AI. Pernah, ia menjadi tukang cuci piring di warung makan kecil, tangannya kapalan, punggungnya pegal. Ia juga pernah menjadi kuli panggul di pasar, memanggul karung beras yang beratnya jauh melebihi bobot tubuhnya. Harga dirinya terkoyak, namun perutnya harus terisi. Malamnya, ia sering meringkuk di kasur tipisnya, merasakan sakit di seluruh tubuh, bukan hanya fisik, tetapi juga batin. 

Ia merindukan Sari, bukan lagi sebagai istri, tetapi sebagai saksi hidupnya, sebagai wanita yang pernah berbagi suka dan duka dengannya. Ia menyesal, betapa mudahnya satu kegagalan menghancurkan seisi rumah tangga.

Suatu sore, saat ia sedang membersihkan jendela di sebuah ruko, ia melihat sebuah mobil berhenti tak jauh darinya. Dari dalam mobil, turunlah Sari, menggandeng Raihan yang kini tampak lebih tinggi. Raihan tertawa riang, memegang sebuah mobil-mobilan baru. Mereka terlihat bahagia. Terlalu bahagia. 

Dada Bram terasa sesak, sakit yang tak terlukiskan. Ia cepat-cepat membuang muka,bersembunyi di balik tiang ruko, takut terlihat. Ia tak ingin Raihan melihatnya dalam keadaan seperti ini. Pipi kurus dan tirus, pakaian kumal, dan mata yang menyimpan ribuan luka.

"Papa, itu!"

Tiba-tiba, suara Raihan melengking, menunjuk ke arahnya.
Bram terpaku. Ia tak tahu Raihan bisa mengenalinya, padahal ia sudah menunduk. Jantungnya bergemuruh.

Sari menoleh, matanya bertemu dengan mata Bram. Wajahnya sontak berubah, dari raut ceria menjadi terkejut, lalu... samar-samar terlihat sebuah ekspresi penyesalan yang melintas cepat. Namun, ia segera menarik Raihan menjauh.

"Bukan Papa, Nak. Ayo kita pulang," ucap Sari, suaranya sedikit tegang.

Raihan meronta, "Tapi itu Papa, Ma! Papa!"

Bram hanya bisa membeku di tempatnya, melihat Raihan yang terus menunjuk ke arahnya, tetapi ditarik paksa oleh Sari masuk ke dalam mobil. Mobil itu melaju, menghilang di tikungan jalan. 

Air mata Bram tumpah ruah, tak tertahankan lagi. Ia merosot, bersandar pada tembok ruko yang dingin. Tangisannya pilu, memilukan, seperti seruan jiwa yang terluka parah. Bukan hanya karena kehilangan keluarga, bukan hanya karena kemiskinan, bukan hanya karena harga diri yang hancur, tetapi karena melihat putra yang ia cintai memanggilnya. 

Namun, ia tak berani menyambut, karena ia melihat kebahagiaan mereka tanpa dirinya. Ia menyadari, dirinya hanyalah bayangan, seorang pecundang yang bahkan tak pantas lagi disebut ayah di mata putranya sendiri. Ia terisak, mencengkeram dadanya yang nyeri. 

Angin sore berhembus, menambah dinginnya suasana. Dalam kesendiriannya, Bram merenungi betapa kejamnya hidup. Satu kegagalan dalam karirnya, ternyata mampu menghapus jejak seluruh ke hidupannya yang pernah ia bangun dengan susah payah. Ia hanya ingin tidur dan tak perlu merasakan sakit ini lagi. 

Thursday, May 15, 2025

Chatbot AI Penulisan Berita

 Tes mengakses chatbot berbasis Gen AI untuk diskusi penulisan berita. Klik gambar bulat di sisi kanan bawah halaman web ini untuk mulai bertanya atau minta bantuan. Chatbot AI ini dibuat dengan platform Chatshape.

Friday, May 12, 2017

Mudik Lebaran 2017 tidak Macet Parah


Mudik lebaran sudah menjadi budaya di Indonesia sejak dulu hingga kini. Budaya lebaran itu baik, namun sering menimbulkan masalah kemacetan parah. Ingat kasus Brexit (Brebes Timur Exit Toll) 2016? Mudik lebaran 2017 ini berpeluang macet berkurang, karena banyak pilihan pintu keluar tol, dan karena hari pertama Idul Fitri tidak bersamaan (?)

Yang kedua itu belum pasti, karena baru prediksi saya pada saat menulis blog ini, 12 Mei 2017. Alat prediksi saya adalah aplikasi Stellarium pada sistem operasi komputer BlankOn Linux untuk melihat posisi bulan dan matahari. Berikut ini penjelasannya.


Sabtu 24 Juni 2017 sore saat matahari terbenam, saya "melihat" bulan memiliki ketinggian sekitar 4 derajat, dihitung dari ufuk barat atau garis posisi matahari mulai terbenam. Artinya, 1 Syawal 1438H jatuh pada hari Ahad 25 Juni 2017.

Tapi seandainya pada 24 Juni 2017 sore ketika matahari terbenam itu tidak ada yang melihat bulan dengan mata telanjang ataupun teropong, maka ada peluang pemerintah memutuskan 1 Syawal pada Senin 26 Juni 2017, sedangkan sebagian masyarakat tetap sholat Idul Fitri pada 25 Juni 2017.  Sholat Idul Fitri yang tidak bersamaan ini akan memecah jumlah pemudik khusus satu hari sebelum 1 Syawal.

Akan ada yang mengambil perjalanan Sabtu malam Ahad dan akan ada yang memilih perjalanan setelah sholat Idul Fitri, Ahad siang atau Ahad malam. Saat tiba di kampung halaman, pemudik bisa bertemu saudara untuk "merayakan" 1 Syawal kedua pada Senin 26 Juni 2017. Ini hanya prediksi saya, pastinya tunggu hari H :-)

Sunday, May 31, 2015

Mencoba Sistem Operasi BlankOn X Tambora

Setelah lama saya mencari waktu untuk menjadi tester amatiran buat BlankOn X Tambora, akhirnya hari ini saya berhasil menguji coba versi harian 20150531 amd64 yang masih versi Beta, versi final belum dirilis. Saya menggunakan laptop lama (dibeli akhir 2010), HP Compaq Presario CQ42, Intel Pentium(R) Dual-Core CPU T4500 2.30GHz. 
Gambar tangkapan layar (Screenshot) BlankOn X Tambora (versi beta)

Eh, ada logo OIX, artinya apa ya? Saya coba menerka, OIX adalah karya Orang Indonesia, versi X (sepuluh, eXcited, eXtra ordinary, atau X saja), yang tidak kalah dengan versi X sistem operasi lainnya. 

Berikut ini beberapa catatan hasil uji coba saya:
  • LiveCD USB saya buat dengan unetbootin pada BlankOn 8, dan BlankOn X sukses booting (dengan bawaan bahasa Inggris).
  • Instal juga sukses. Saya memilih mengedit partisi hard disk secara manual (pakai partoedi) untuk memformat ulang salah satu partisi (/dev/sda11).
  • Kartu Audio intel 82801I OK.
  • Kartu Video intel mobile 4 series OK dg resolusi 1366x768.
  • Kartu Wifi RTL8191 OK.
  • Ethernet RTL8101E OK.
  • Hampir semua aplikasi berhasil saya coba. Saya belum menemukan kendala, kecuali tombol print-screen belum menghasilkan tangkapan layar (mungkin saya salah), sehingga contoh tampilan di atas saya buat dengan aplikasi Screenshot (klik ikon paling kanan di panel bawah, atau klik dari menu Accessories).
Tulisan ini saya buat dengan peramban web Chromium di BlankOn X Tambora versi livecd harian 20150531.

Jika ingin belajar cara menjadi admin sistem Linux, silakan cek lembaga pelatihan sistem komputer dan pemrograman di Depok dan Jakarta ini.

Terima kasih kepada semua pengembang BlankOn yang hebat-hebat, semoga kebaikan Anda semua dibalas oleh Allah, sehingga Anda semua bahagia dunia hingga akhirat. Aamiin. 

Saturday, May 02, 2015

Beda Harapan Dosen, Mahasiswa, dan Perusahaan

Di hari Pendidikan Nasional 2 Mei saya teringat komentar teman ketika saya cerita akan ada perguruan tinggi baru di bidang teknologi pada 2012 bernama UNF. "Bukankah mendirikan perguruan tinggi baru akan menambah jumlah penggangguran terdidik, karena masih ada gap antara perguruan tinggi dan dunia kerja?" Kekhawatiran teman saya itu bukan tanpa alasan, namun juga bukan tidak ada solusi.

"Insya Allah itu tidak terjadi," jawab saya, "karena UNF yang diawali dengan STT-NF itu akan mencetak teknoprener atau pewirausaha berbasis teknologi dan lulusan yang siap kerja sesuai kebutuhan perusahaan. STT-NF tidak hanya mendidik mahasiswa menjadi pemikir yang kritis atau memiliki konsep yang kuat, tapi juga memberikan hard-skill teknologi aplikatif/terapan, dan soft-skill kehidupan. Ketiganya sangat dibutuhkan dunia kerja."

Memang benar, gap atau perbedaan harapan antara dosen, mahasiswa, dan perusahaan pencari karyawan masih terjadi. Gap dalam hal apa saja yang harus dipelajari mahasiswa selama kuliah tidak hanya ada di Indonesia, tapi juga di negara maju seperti Amerika Serikat (Sumber: http://www.slideshare.net/CheggInc/improving-student-outcomes).

Contoh beda harapan dan kenyataan, 70 persen mahasiswa mengikuti kuliah untuk segera mendapatkan pekerjaan setelah lulus. Tapi kenyataannya, 12,8 persen lulusan perguruan tinggi tidak langsung bekerja, 40 persen bekerja tidak sesuai bidang studi, dan 42 persen bekerja tanpa menggunakan ilmu kuliahnya.

Hasil survei berikut ini juga menunjukkan kurang "nyambung"nya keinginan mahasiswa, dosen/perguruan tinggi, dan perusahaan/pencari karyawan:
  • Perusahaan menilai penting dua hal pokok, yakni lulusan punya skill aplikatif yang dibutuhkan perusahaan (siap kerja) dan kuat dalam berpikir kritis.
  • Mahasiswa hanya menilai penting memiliki skill aplikatif (siap kerja), tapi menilai kurang penting perpikir kritis. 
  • Dosen/perguruan tinggi menilai sangat penting mahasiswa berpikir kritis, tapi menilai rendah skill aplikatif (siap kerja), karena dosen/perguruan tinggi berpikir karir lulusan jangka-panjang.
Jadi ada gap karena mahasiswa ingin skill untuk mendapatkan pekerjaan setelah lulus, dosen ingin mendidik mahasiswa berpikir kritis untuk kebutuhan jangka panjang, sedangkan perusahaan ingin lulusan yang punya keduanya, skill bekerja dan berpikir kritis.

Lalu apa saja yang dibutuhkan perusahaan? Untuk bidang teknologi informasi, tiga kemampuan pokok adalah soft skill (misal berkomunikasi) pemrograman (misal Java/PHP), dan database (misal SQL/NoSQL). 

Bagaimana solusinya? Kembali ke konsep peruguruan tinggi yang ideal menurut saya, yakni mempertemukan keinginan mahasiswa dan dunia kerja. Perguruan tinggi tidak hanya memberikan ilmu-ilmu teoritis atau berpikir kritis, tapi juga memberikan skill aplikatif seperti pemrograman komputer dan database yang dibuktikan dengan sertifikat kompetensi, dan memberikan soft-skill yang dibutuhkan dunia kerja seperti keterampilan berkomunikasi, bekerjasama dalam tim, berorganisasi, kewirausahaan, dan kepemimpinan. 

Monday, April 20, 2015

Komunitas Open Source Indonesia Kehilangan Salah Satu Pejuangnya

Foto Pak Made (kiri) bersama Prof. Wayan (kanan) dalam acara Indonesia Open Source Award 2011.
Prof. Dr. I Wayan Simri Wicaksana telah meninggalkan kita untuk selamanya pada Minggu 19 April 2015. Saya sangat kehilangan. Bukan karena saya mengenal dekat dan tahu banyak kebaikan dan kerja kerasnya sejak sama-sama kuliah di jurusan Fisika Universitas Indonesia, tapi karena saya tahu banyak perannya di bidang TIK di Indonesia sejak akhir 1990-an hingga akhir hayatnya dalam mengenalkan teknologi berbasis pengembangan terbuka (Open Source).

Banyak jasa Prof. Wayan dalam menyebarluaskan ilmu dan pengalamannya di bidang teknologi informasi dan komunikasi, tidak hanya terkait Open Source. Semangat berjuangnya tidak memudar meskipun telah menderita sakit sejak pertengahan 2014, antara lain tetap bersama saya dan banyak teman pekerja volunteer dalam penyusunan Standar Nasional Indonesia (SNI) di bidang Teknologi Informasi (Komite Teknis SNI 35-01).

Prof. Wayan memiliki adik kandung yang juga pejuang di bidang Open Source, dan mungkin lebih populer darinya hingga saat ini, yaitu Dr. I Made Wiryana, yang biasa saya panggil Pak Made. Mendiang Prof. Wayan banyak bekerja di balik layar dalam berbagai kegiatan terkait TIK dan Open Source, sehingga wajar jika namanya kurang populer. Namun di kalangan aktivis Open Source serta TIK di pemerintahan dan pendidikan, nama Prof. Wayan cukup dikenal, antara lain sering tampil menjadi pembicara seminar-seminar, juri lomba-lomba seperti IOSA (Indonesia Open Source Award) dan INAICTA (Indonesia ICT Award), menjadi asesor BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional - Perguruan Tinggi), pengurus IPKIN (Ikatan Profesi Komputer dan Informatika Indonesia), dan lain-lain. Selamat jalan Prof. Semoga banyak dari kami yang masih hidup mampu meneruskan perjuanganmu. Dan kami pasti menyusulmu, cepat atau lambat...