Wednesday, July 09, 2008

Linux bukan hanya untuk orang IT dan kaya

Kemarin (Selasa, 8/7/2008) saya terima email yang mengingatkan saya ke masa sepuluh tahun lalu, ketika umumnya distro Linux masih sulit digunakan. Belum ada program seperti MS Office. Teman pengirim email itu bilang, sulit mengajak para guru sekolah untuk "kembali ke jalan yang benar" dengan menggunakan Linux. Kata para guru itu, Linux hanya cocok digunakan oleh lulusan perguruan tinggi jurusan IT (kuliah yang berbau komputer atau Information Technology) dan orang kaya, Linux tidak cocok untuk pengguna komputer biasa dan kaum dhuafa.

Saat ini, untuk kebutuhan sekolah umum, TK hingga SMA, RA hingga MA, sebuah CD atau DVD Linux yang telah terinstal dalam komputer, pasti siap digunakan untuk pembelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Setelah terinstal dalam komputer, Linux dapat digunakan untuk mengenal komputer, mengetik, menghitung, menggambar, membuat presentasi, mengakses internet/intranet, mendesain grafis, membuat halaman web, mengakses multimedia, dan lain-lain.

Linux jelas lebih cocok untuk kaum dhuafa, karena tidak perlu memikirkan izin atau biaya lisensi untuk menggunakannya. Linux juga cocok untuk orang kaya, yang mampu membeli komputer kelas tinggi, misalnya untuk mengedit video hasil rekaman handycam-nya atau kamera HP-nya, mengedit foto dari kamera digital-nya, atau sekadar mengubah CD-CD musiknya menjadi kumpulan lagu ogg atau mp3. Bahkan, Linux dapat menghasilkan film bagus seperti Big Buck Bunny (http://www.bigbuckbunny.org).

Memang dalam pekerjaan tertentu seperti CAD untuk mendesain rumah 3D belum mudah mendapatkan pengganti Autodesk AutoCAD, atau untuk membuat flash belum mudah menemukan pengganti Macromedia Flash. Namun untuk pendidikan dasar dan menengah hingga perguruan tinggi secara umum, Linux dan teman-temannya dari keluarga Free/Open Source Software kini siap digunakan. Tidak hanya untuk sekolah atau perguruan tinggi "kaya" (biaya masuk puluhan juta plus SPP per semeter jutaan) tapi juga perguruan tinggi "miskin" (biaya masuk gratis, SPP juga gratis atau di bawah satu juta per semester).

Catatan: Mohon maaf jika istilah miskin dan kaya itu kurang tepat. Saya belum menemukan kata yang pas selain dhuafa untuk suadara-sudara kita yang masih berat dalam memenuhi kebutuhan makan, apalagi sekolah/kuliah.

Depok, 9 Juli 2008

10 comments:

piju said...

nice article

Alone said...

mungkin agak ada benarnya kalau linux lebih tepat digunakan oleh orang2 kaya. Hal tersebut berkait dg mutlaknya dibutuhkan internet untuk update sistem atau sekedar menambah software yang fungsional.
Linux akan benar-benar sangat tepat untuk kaum dhuafa, seandainya sudah ada industri pemaketan repositori secara masal,
yang dapat diperoleh di setiap toko komputer tedekat,
atau suatu saat ada rental sewa CD/DVD Linux dan repositorinya.
Maturnuwun........!!!!!

Alone said...

ada synaptic, ada urpmi, ada juga CNR,
dan lain-lainnya....
tapi apalah guna semua itu,
karena jutaan pengguna komputer dan Linux di Indonesia pasti lag belum terhubung dg internet. Tak lain tak sebab adalah karena internet masih mahal.
padahal, walau sudah ada OOo, kita pun tak ayal membutuhkan banyak software fungsional lain demi kinerja sebuah PC yang optimal.
Namun,ternyata itu semua harus diperoleh dg melalui koneksi internet.
Bolehlah memang Linux itu free,
tapi kalau sulit menambah software fungsional lainnya,
Apa kata dunia??????????
Semoga saja industri pemaketan repositori Linux dalam bentuk CD/DVD segera berkembang,
dan menjadi industri baru yang meledak.
Buat para aktivis Linux,
marilah kita semua bahu membahu,
memberikan semangat kepada semua orang untuk mau meluangkan waktu untuk belajar Linux.
Ketelatenan kita,
yang mempunyai koneksi internet berlebih,
mendownload paket tambahan,
lalu menyebarkannya ke pengguna Linux lain yg tidak punya koneksi internet,
akan menjadi sebuah hal yang sangat berharga dan luar biasa sekali.
Salam Linux......

Rusmanto said...

Terima kasih buat piju.

Buat Alone, saat ini memang masih sedikit penjual CD/DVD Linux/FOSS. Ini peluang buat siapa saja untuk berusaha di bidang Linux, misal jualan CD/DVD.
Saran yang dapat disampaikan ke pengguna Linux adalah berlangganan majalah infolinux atau majalah yang menyertakan CD/DVD Linux lainnya untuk sekolah (tulisan ini fokus pada sekolah kaya/miskin).

Saya yakin sekolah juga biasa beli CD/DVD untuk Windows (biasanya haram), sekarang dialihkan anggaran beli CD/DVD untuk Linux (halal). :-)

fxekobudi said...

Saya sangat sependapat dengan Pak Rus, bahwa Linux bisa digunakan oleh semua orang. Istri saya tercinta yang pekerjaannya menjadi guru SD ternyata langsung jatuh cinta dengan desktop Ubuntu dan aplikasi di dalamnya. Awalnya menyukai Ubuntu karena tidak perlu repot-repot dengan virus komputer. Saat ini dia juga biasa membuat presentasi untuk pembelajaran di kelas menggunakan Open Office Presentation.. Dan menurut saya, lebih mahal membeli lisensi MS Office dibandingkan dengan membeli DVD repository. Hehe...

mudabentara said...

linux itu memang punya nya orang kaya, contohnya aja google, google bisa kaya karena linux.....
hidup linux....
mari merdekakan orang indonesia dari penjajahan windows .....

Halaman Parkir said...

Sebetulnya bukan perkara kaya dan miskin, tapi lebih pada perkara malas atau rajin, mau sedikit lebih berpikir or not. Jangankan ngomongin OS yg linux vs. winblows... bicara MS Office dan OpenOffice aja orang butuh waktu dan pertimbangan untuk mau migrasi dari MS Office ke OpenOffice, padahal sama-sama under windblows loh. Ada beberapa teman yang main di Excel udah kelas berat bo!, gak cuma spreadsheet ngitung sederhana, tapi udah macro kelas berat, pakai VBA segala... mana bisa sesederhana itu untuk uninstall MS Office dan instal OpenOffice di OS winblowsnya, karena bagaimanapun mereka kudu belajar macro lagi di openOfficenya. Sosialisasi juga butuh "ilmu marketing"... bagaimana "menjual" Linux ditengah-tengah orang yang sudah keblinger dengan Winblows, mesti juga "diiming-iming" sesuatu yang bisa membuat orang meninggalkan OS Winblows (kebiasaan orang marketing kalo jualan khan meng iming-imingi hadiah/bonus/extra something etc). Di Jerman sana, banyak yang berhasil kok... beberapa Pemda di Jerman menggunakan Linux (tidak berdampingan dengan OS lain), disini? di Indonesia ini? pastinya bisa (kalee)... secara para aktifis opensourcenya jangan cuma sibuk mikirin develop Blankon dll... tapi juga kudu sosialisasi yang bisa merubah paradigma berpikir para end user OS. Kalo perlu di hipnotis tuh orang biar mau pakai linux. :-)). wassalam

fikar said...

Benar sekali pak, saya setuju dengan pendapat itu.

hermawan said...

dulu sempet belajar mengenai linux, sekarang dah jarang pake. :D

sebenarnya dari saya pribadi sich antara market oriented dan market demand itu berbeda pendapat, dan dari pertama linux sendiri sudah "against" dari pada os yang lain.

so dengan adannya hal ini maka public pada umumnya agak susah untuk menghindar dari masalah ini secara umumnya kenapa ?.

berapa sering mic kocok publish os baru, dan berapa banyak distro yang publish. core nya beda.

coba kalau linux itu cuman 1 distro aja mungkin akan beda perang di pasar.

maaf sekedar komentar aja.

Gie said...

ya menurut saya Linux memang cocok untuk semua kalangan, selain bebas biaya PUNGLI (pungutan Lisence)
di Linux sangat mudah mendapatkan distro"nya cma tinggal clik packet manager, ketikan distro yg dcari langsng ke install, cma butuh 3x klik mouse,
coba bayangin klo pke OS Laen, cari software dlu di google trus ribet kan? trus brp x klik next next next ??
Linux GRATIS, Selain Linux ada OS Lain yg GRATIS???????????