Mengapa Kau Pilih Linux Jadi 'Istrimu'?
Judul itu pertanyaan untuk saya. Kalau ditujukan untuk wanita, "Mengapa kau pilih Linux jadi 'suamimu'?" Padahal ada Windows yang ngetop habis, seperti selebritis, terkenal dan mau kau jadikan istri atau suami. Ada juga Mac OS X yang cantik atau ganteng, meskipun tidak terkenal seperti Windows. Mengapa?
Tidak mudah menjawabnya. Namun saya coba tulis di bawah ini, dengan sub judul "Mencintai tidak selalu Menjadikan sebagai 'Istri/Suami'." Semoga Anda puas....hehehe bergaya Tukul.
Linux bisa saya "miliki" sepenuhnya, bisa saya "apa-apakan", terserah apa maunya saya. Linux, meskipun dulunya tidak rupawan, bisa saya ubah menjadi rupawan buat saya, tetap aman dari penyakit virus, dan tetap stabil tidak suka menyeleweng. Kalau saya tidak bisa mempercantiknya, saya bisa minta tolong orang lain. Memang, rupawan buat saya belum tentu rupawan buat orang lain. Tapi itulah cinta, kadang sulit diterima nalar, tapi tidak buta, karena mata hati saya melihatnya, Linux cocok jadi pasangan saya.
Kembali ke pertanyaan, mengapa tidak meminang Windows? Hah, Windows tidak mungkin saya miliki. Saya hanya bisa menyewa kalau punya duit, tapi saya tidak bisa meng"apa-apa"kan, meskipun minta tolong orang ahli, karena tidak ada bagian Windows yang dapat dibuka oleh siapapun, kecuali oleh pembuatnya.
Lalu, mengapa tidak Mac OS X, kan cantik dan sangat mudah digunakan? Mac OS X kan juga satu keluarga dengan Linux? Saya agak sulit berkomentar tentang Mac OS X, karena jujur saya akui, dialah cinta pertama saya....huuuu. Saya awalnya kenal DOS, lalu Windows 3.X, lalu Mac, saya benar-benar mabuk kepayang sama Mac OS saat itu. Tapi, meski kini Mac OS X berbasis Open Source (Darwin/FreeBSD), saya tidak bisa memilikinya, milik dalam arti sebenarnya. Mencintai itu bebas, tapi memiliki itu ada aturannya. Mencintai tidak harus menjadikannya sebagai istri/suami, bukan?
Kini, saya hanya senang memandang Mac OS X dari jauh. Kalau mau, saya masih bisa menyentuh, tapi tidak bisa menjadikan sebagai 'istri' karena Mac OS X milik Apple, demikian pula Windows itu hanya milik Microsoft. Linux 'istriku', Linux 'milikku', meskipun Linus pemegang hak ciptanya. Terima kasih Linus dan terima kasih semua pengembang FOSS. Merdeka!
Tidak mudah menjawabnya. Namun saya coba tulis di bawah ini, dengan sub judul "Mencintai tidak selalu Menjadikan sebagai 'Istri/Suami'." Semoga Anda puas....hehehe bergaya Tukul.
Linux bisa saya "miliki" sepenuhnya, bisa saya "apa-apakan", terserah apa maunya saya. Linux, meskipun dulunya tidak rupawan, bisa saya ubah menjadi rupawan buat saya, tetap aman dari penyakit virus, dan tetap stabil tidak suka menyeleweng. Kalau saya tidak bisa mempercantiknya, saya bisa minta tolong orang lain. Memang, rupawan buat saya belum tentu rupawan buat orang lain. Tapi itulah cinta, kadang sulit diterima nalar, tapi tidak buta, karena mata hati saya melihatnya, Linux cocok jadi pasangan saya.
Kembali ke pertanyaan, mengapa tidak meminang Windows? Hah, Windows tidak mungkin saya miliki. Saya hanya bisa menyewa kalau punya duit, tapi saya tidak bisa meng"apa-apa"kan, meskipun minta tolong orang ahli, karena tidak ada bagian Windows yang dapat dibuka oleh siapapun, kecuali oleh pembuatnya.
Lalu, mengapa tidak Mac OS X, kan cantik dan sangat mudah digunakan? Mac OS X kan juga satu keluarga dengan Linux? Saya agak sulit berkomentar tentang Mac OS X, karena jujur saya akui, dialah cinta pertama saya....huuuu. Saya awalnya kenal DOS, lalu Windows 3.X, lalu Mac, saya benar-benar mabuk kepayang sama Mac OS saat itu. Tapi, meski kini Mac OS X berbasis Open Source (Darwin/FreeBSD), saya tidak bisa memilikinya, milik dalam arti sebenarnya. Mencintai itu bebas, tapi memiliki itu ada aturannya. Mencintai tidak harus menjadikannya sebagai istri/suami, bukan?
Kini, saya hanya senang memandang Mac OS X dari jauh. Kalau mau, saya masih bisa menyentuh, tapi tidak bisa menjadikan sebagai 'istri' karena Mac OS X milik Apple, demikian pula Windows itu hanya milik Microsoft. Linux 'istriku', Linux 'milikku', meskipun Linus pemegang hak ciptanya. Terima kasih Linus dan terima kasih semua pengembang FOSS. Merdeka!
Comments
Oh yes!
saia yang belum nikah pak.bisa bisa tidak bisa nikah gara-gara tidak ada waktu untuk memikirkan perempuan.dan waktu terkuras habis untuk linux(baca=blankon)
Kalau saya sich masih setia dengan Mandriva. Biarpun saya sudah menikah dengan suami yang sebenarnya. Karena Mandriva adalah matahari buat saya, bagaimana kita hidup tanpa matahari?
Walau skarang saya juga mulai jatuh hati juga dengan Blankon. Jadi selingkuh.
Hebat disini saya bisa 'poliandri' tanpa menimbulkan gosip hehehe...
Hi hi...
Yang jelas sih gak bosenin Pak. Dua kali setahun jadi baru terus.
Namun kini Linux saja belum cukup Pak, orang-orang sudah bicara Distro. jadi Linux dari marga mana ya? He.. he..
Marga Debian atau Marga RedHat :-P
Selain itu Distroer ini galak-galak Pak dan giat mengusung Distronya masing-masing nih! :-P
Ada yang mengandaikan Linux itu seperti agama bagi komputer. Kriteria memilih istri/suami yang utama pasti agama (baca: akhlak). Kriteria berikutnya bisa macam-macam, misalnya:
- Cantik/Ganteng: Mandriva
- Lincah: Slackware
- Ngetop: Ubuntu - BlankOn
- Lembut: Fedora - Nusantara
- Rumit (teliti): openSUSE
- Kaya (keturunan): Red Hat
- ...
`:D