Wednesday, January 11, 2012

Mengapa Menolak Linux?

Linux dan berbagai program yang tersedia untuknya telah diterima oleh jutaan komputer "server" di dunia. Linux (Android) juga telah diterima oleh ratusan juta hingga milyaran komputer "jaman sekarang" berbentuk tablet PC dan handphone. Definisi PC di sini adalah komputer untuk bekerja personal. Jika tanpa kata tablet, maka PC dapat berbentuk desktop (komputer di meja) atau laptop (komputer di pangkuan, notebook atau netbook).

Jika Anda penasaran Linux untuk server, gunakan www.netcraft.com untuk mengetahui sistem operasi (OS) apa yang digunakan oleh server-server raksasa milik "perusahaan-perusahaan raksasa". Misalnya semua server dengan sub domain google.com, demikian pula search.microsoft.com menggunakan OS Linux.

Lalu, mengapa ada PC dan penggunanya "menolak Linux" padahal banyak server dan penggunanya menerima GNU-Linux, dan banyak pengguna tablet/handphone menerima Android-Linux?

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman di Indonesia, adanya PC dan penggunanya "menolak Linux" antara lain disebabkan oleh salah satu atau beberapa hal ini:
  1. PC itu berisi perangkat keras yang belum mendukung Linux, misalnya printer dan scanner merek dan tipe tertentu.
  2. Pengguna PC itu membutuhkan program yang tidak dapat dijalankan di Linux, misalnya RKAKL yang saat ini dipakai pemerintah Indonesia dan games yang saat ini masih popular. 
  3. Pengguna PC itu diperintah oleh atasan atau bosnya untuk membuat dokumen perkantoran (teks, spreadsheet, presentasi, gambar) atau tugas lain yang harus dijalankan dengan sistem operasi bukan Linux.
  4. Pengguna PC telah mendapatkan program bukan Linux dalam PC yang dibelinya, sehingga selama memakai PC tidak mengenal Linux. Tak kenal, maka tak sayang. 
  5. Pengadaan barang/jasa di berbagai instansi tidak mensyaratkan Open Source dan bahkan mengarah ke merek tertentu, sehingga Linux tidak memenuhi ketentuan pengadaan.
Setelah tahu penyebabnya, berikut ini solusi agar Linux diterima oleh PC dan penggunanya:
  1. Beli PC atau perangkat keras PC yang telah mendukung Linux, misalnya (bukan promosi, hanya contoh) printer LaserJet/Deskjet HP, printer dan scanner Canon MP287 (meskipun harus download driver lebih dulu), dll. 
  2. Meminta pemerintah memberikan program yang wajib dipakai bisa jalan atau diakses dari Linux, misalnya tersedia RKAKL versi Linux atau versi web yang dapat diakses dari browser web di Linux.
  3. Membuat kesepakatan bersama para pengguna PC, termasuk pemimpinnya atau atasannya, untuk menggunakan program yang sesuai dengan standar dokumen perkantoran yang telah menjadi SNI (Standar Nasional Indonesia) dan ISO/IEC 26300, yakni OpenDocument Format, misalnya OpenOffice dan LibreOffice. 
  4. Memesan ke toko/penjual PC atau pemenang lelang pengadaan PC untuk memasang Linux dan semua program penting seperti Open/LibreOffice, Gimp, Inkscape, dan lain-lain pada komputer yang dikirimnya. 
  5. Memberi tahu kepada para penyusun dokumen pengadaan barang/jasa pemerintah, swasta, dan lembaga pendidikan tentang prinsip dasar bahwa Open Source itu netral. Jika syarat pengadaan menyebutkan harus Open Source, maka siapa pun dapat menyediakannya, karena tidak ada software yang tidak dapat dijadikan Open Source jika pembuatnya "mau". 

Open Source itu netral. Open Source itu adil (fair). Open Source itu kebersamaan. Dan Linux itu Open Source.

16 komentar:

Internet For Kids said...

Di Internet For Kids ada juga pengguna anak-anak yang kebingungan karena biasanya di sekolahnya belajar komputer menggunakan "bukan Linux"...
Yang begini butuh penyesuaian sedikit lebih lama...
Pengguna yang sama sekali baru walaupun anak-anak TK dan SD sekalipun, jauh lebih mudah mengerti...
Perkenalan pertama ternyata ada pengaruhnya juga! :-)

replayfrom said...

setuju pak, dan semuanya dikembalikan ke manusianya (baca:pimpinan pemerintah) :)Regards

Anonymous said...

Mungkin sebagai tambahan pak, user yg biasa memakai win**ws malas buat belajar memakai linux. "Ini ada yg gampang kenapa mesti pakai yg ribet toh hasilnya sama saja"
Alasan yg sering digunakan user dikantor saya.

Anonymous said...

Sepertinya harus mengadakan amal sodaqoh installer sebelum uang para orang kaya terpaksa memilih windows 7 karena ketidak tahuan atau kepraktisan disaat membeli

Anonymous said...

Assalaamualaikum Pak Rus, setelah 31 Desember 2011, what next?

Sapto said...

Saya pernah tanya sama orang Pustekkom, sewaktu mereka (tim) datang ke Manokwari untuk sosialisasi situs belajar.kemdiknas.go.id, mengenai kurikulum yang seharusnya sudh menggunakan FOSS dan linux demi untuk penghematan, etika (agar tidak menggunakan sofware bajakan), keamanan (dari virus dan malware) dan tentang SK Menpan (mengenai penggunaan FOSS di instansi pemerintah), termasuk juga mengapa presentasi yang mereka lakukan masih menggunakan Windows 7. Jawabannya : Kemdiknas menganjurkan menggunakan FOSS (lips service???) tetapi tidak bisa mewajibkan karena Kemdiknas sendiri sudah ada MoU dengan Microsoft. Saya ingat, sebelumnya saya pernah di tegur oleh Wakasek Kurikulum karena mengajarkan OpenOffice Impress, dan Calc (bukan PowerPoint dan Excel). Saya sudah jelaskan alasannya, tetapi tetap tidak bisa, karena ujian kelas 3-nya soal diseragamkan untuk satu kabupaten dan materi ujiannya tetap mengenai Ms Office, CorelDraw dll. yang berbasis Ms Windows. Jadi kesimpulannya Pemerintah tidak pernah sungguh-sungguh mengimplementasikan Linux dan FOSS ... dan kemungkinan pembajakan software akan tetap semarak di negeri ini, g tau dah pusiiing ....

Rusmanto said...

Pertanyaan untuk pak Sapto, pemerintah itu yang mana? Kata Kang Onno W. Purbo, apakah masih perlu ada pemerintah? :-) Banyak sekolah swasta bisa bertahan dan berhasil mengajarkan TIK berbasis FOSS.

Dalam menentukan materi ajar dan ujiannya, para guru (MGMP TIK) dan dinas pendidikan BISA menentukan software apa yang akan digunakan untuk belajar dan ujian. Tidak harus mengikuti "paksaan" untuk menggunakan software proprietary.

Sapto said...

Kalo saya perhatikan di tempat saya, hampir semua instansi pemerintah kebijakannya masih pake windows (legal or illegal one, I don't know), termasuk instansi Pendidikan, kepolisian, kejaksanaan, dan Kominfo masih menggunakan OS Windows. Saya tadinya berharap ada "push" dari pemerintah pusat (Kemdiknas) untuk mewajibkan penggunaan FOSS dalam pendidikan di sekolah-sekolah, tetapi setelah mengetahui adanya MoU dengan Microsoft tersebut, saya rasa saya tidak perlu lagi mengharapkan hal itu. Memang ada beberapa orang yang saya kenal (guru, dosen, peg. pajak, Bappeda, pegadaian dll.) mulai mengenal dan mencoba menggunakan Linux (masih dual boot dengan windows), tetapi hanya pada level individu belum menyentuh hingga mempengaruhi kebijakan di instansi mereka bekerja. Saya sendiri sekarang mengajarkan FOSS dan linux bukan pada mata pelajaran pokok (TIK), tetapi pada pelajaran tambahan diselipkan di Mulok (a.l. Inkscape dan GIMP). Karena tidak sperti di daerah lain, kebanyakan sekolah swasta di sini masih tergantung sama "belas kasihan" pemerintah. Dalam mengajar TIK saya menggunakan Wine u/ jalankan Office 2007 dan Virtualbox untuk "mainkan" Corel Draw. Dan saya bangga sebagai Linuxer, terutama saat kegiatan2 pelatihan, laptop saya desktop-nya selalu tampil beda dan terlihat paling unik, apalagi saat presentasi :).

Prog Rama said...

shrusnya linux yang harus menyediakan semuanya......
karena linux opensource.
sedangkan os lain contoh win closesource, knp dia bisa support dengan device yang begitu banyaknya...
mudah kan utk menjawab semua itu, tinggal kita liat lagi itu sorcenya...itu jwb pakar....

Anonymous said...

Kalau supportnya baik dan tersebar luas, pasti banyak yang menggunakan Pak.

Katakanlah kasusnya begini :
Perusahaan besar yang memiliki 1000 cabang, ketika pindah Linux maka pertanyaan berikut muncul :
- Siapa yang support OS ?
- Siapa yang support hardware ?
- Siapa yang support aplikasi A ?
- Siapa yang support aplikasi B ?
- dll

Aplikasi2 bisnis serius apa yang tersedia di Linux ? Siapa yang support ?

Secara realistis, berapa entitas baik perusahaan / komunitas yang bisa support ini ?

Salam,

Pelaku Bisnis IT

ivanbae said...

nambah satu lagi om...
orang belum pake linux karena linux butuh internet untuk terus maju (pengalaman ane pas nginstall kompi family ane di dusun...)

Rusmanto said...

@Ivanbae, sebenarnya bisa diatur install linux tanpa internet, misal utk kebutuhan komputer office dasar atau membawa dvd lengkap seperti ubuntu 11.10 plus repositorynya atau minimal seperti yg ada di dvd majalah infolinux. Untuk install lengkap dan update, windows juga butuh internet.

Rusmanto said...

Support Linux disediakan oleh banyak perusahaan, selama mau membayar support. Misal beli oracle utk Linux, perusahaan Oracle dan partnernya pasti mau support jika pembeli juga beli support. Sebaliknya, pakai Windows tanpa membeli support maka pembuat Windows juga tidak mau mensupport jika ada masalah pada pengguna. Ada uang ada support, meskipun ada juga support gratis via milis dll.

Sapto said...

Kalo memang dirasakan windows lebih baik daripada linux, saya rasa hak setiap orang untuk memilih apa yang dia sukai dan apa yang dia tidak sukai ... Semuanya tergantung kepada apa telah biasa kita lakukan. Ala bisa karena biasa, yang penting tidak merugikan orang lain dan tidak melanggar hukum dan etika. Isu yang santer dlm persoalan penggunaan OS Windows di negara kita adalah soal legalitas, virus dan malware .... Isu pada dunia linux dan opensource adalah masalah support dan driver. Pilihan di tangan kita masing-masing .... Menurut sy kalo memang ingin pake linux, driver bukanlah masalah, kita bisa membeli hardware yang sudh full support oleh linux (banyak sekaliii ..) ... Kalo memang masalah support software, bukankah ubuntu, redhat dan beberapa distro besar lainnya juga memberikan support ..? Jawabannya adalah banyak orang yang sukar untuk menerima perubahan ... :) Kunci untuk merubahnya ada pada pendidikan anak2 di sekolah ....

Mufti said...

Ini OOT, tapi saya kurang setuju dengan statemen yang ini: "Open Source itu netral. Open Source itu adil (fair). Open Source itu kebersamaan. Dan Linux itu Open Source."

Mungkin secara filosofis atau konsep, Opensource dan gerakan free software itu mengutamakan keadilan, kebersamaan, dan netralitas. Tapi menurut saya, dalam penerapannya, keadilan dan netralitas itu belum dicapai. Entah ini karena sistem, atau kompetensi orang-orangnya (itu berarti semua praktisi).

Penggunaan resource linux saat ini sangat besar, tidak ada bedanya dengan windows atau Mac. Distro keluaran baru-baru ini mensyaratkan ram minimal 512mb. Komputer pentium 4 dengan ram 256 saat ini masuk "kategori puppy", maksudnya, kalau kita bertanya ke forum2 distro apa yang cocok, pasti langsung dirujuk ke distro "ringan" seperti puppy atau Damnsmalllinux.

Masalahnya, sebagian besar software productivity atau yang sehari-hari digunakan selalu "dirancang" untuk distro mainstream, "saja". Mulai dari paket instalasi, support, cara instalasi dan troubleshooting, umumnya dirancang untuk distro buntu-buntu atau berbasis rpm.

Pengguna linux lighweight, atau bahkan slackware yang "cukup mainstream" sekalipun, harus melakukan segalanya secara manual, edit sana-sini, kompilasi sendiri. Pekerjaan yang memakan waktu dan tidak mudah bagi pemula, atau orang-orang yang bidangnya bukan IT. Okelah, beberapa distribusi memang ditujukan untuk poweruser, tapi karena keterbatasan kemampuan hardware, non-poweruser jadi terpaksa menggunakan distro poweruser yang ringan.

Apakah non-poweruser harus selalu membeli hardware terbaru agar pekejaan biasa seperti browsing, mengetik, mengolah data, pekerjaan2 yang tidak berbeda jauh dengan 5 tahun lalu, bisa dilakukan dengan mudah? Bagaimana jika tidak ada dana? Dimana keadilan dan kebersamaan?

(Maaf, ini agak emosional)

Sapto said...

Dear @Mufti Yg. terhormat :
Jika memang komputer Anda agak "jadul" dan msh. ckp. berat mnjalankan distro linux yg. lahir belakangan ini, bisa diinstall dgn. distro linux yg. waktu "lahirnya" kira2 bersamaan dgn. waktu lahirnya hardware komputer Anda ...

Redhat 7.3 dgn aplikasi StarOffice 5.2 / OpenOffice 1.1 dan Printer canon sp100 masih bisa berjalan di komputr. "jadul" sy. dgn. spek PII 400 ram 128 Mb. VGA Matrox 8Mb ... Masih bisa produktif :) (y) ...

Tetangga, sy installkan Mandrake 9.2 di komputer Celeron 667 Ram 192 Mb. ...

Di netbook intel atom dgn. hrga +- 2.7 jt. (relatif murah, kan?) sy. installkan distro Pinguy 11.04 (turunan ubuntu 11.04) dgn. LibreOffice 3, Inkscape, gimp, semua efek 3D desktop-nya jlan. mulus ...

Kalo mau pake komputer y harus belajar jd. operator komp. Kl. mau bisa mengoperasikan linux y hrs belajar linux (g susah kl. memang niatnya "mau").
Kl. mmg masih dirasa sulit, y daripda beli software propietary yg. mahal lbh baik buat kursus linux ... :) dapat tmbah ilmu ...
Kl. malas y pake mesin ketik saja ...(kecuali pk.software propietary bajakan, apa iya begitu ???)

Pilihan ditangan kita msing2, baik buruknya sesuatu trgantung sudut pandang kita melihatnya dan bagaimana kita menyikapinya ...

Selalu ada pro kontra, selalu ada setuju tidak setuju dll. ...