Monday, February 20, 2012

Distro Linux Indonesia

Mengapa Membuat Distro Linux Indonesia?


Bangsa Indonesia boleh berbesar hati karena banyak pengembang FOSS yang karyanya diakui secara nasional maupun internasional. Sebagian karya “anak bangsa” itu berbentuk sistem operasi lengkap atau distro Linux, misalnya (urut abjad pertama) BlankOn, Briker, Igos Nusantara, MiGOS, POCI, Soerya, dan Zencafe.

Mengapa pengembangan distro Indonesia itu penting, padahal sudah banyak pilihan distro dari luar negeri siap untuk digunakan oleh bangsa Indonesia? Berikut ini beberapa alasan para pengembang Linux/FOSS membuat distro Linux khas Indonesia. Alasan pertama adalah penguasaan produk dan kepemilikan merek. Ini sangat terkait dengan hak cipta atau lisensi FOSS yang mengizinkan pembuatan turunan tanpa harus menggunakan merek produk awalnya.

Alasan kedua untuk memenuhi kebutuhan pengguna Indonesia yang belum terpenuhi dengan mudah oleh distro luar negeri. Hampir semua distro lokal memberikan dukungan berbagai format multimedia dan bahasa lokal. Kebutuhan lain adalah kelengkapan program yang paling banyak digunakan di Indonesia, misalnya GIMP untuk pengolah foto yang tidak lagi disertakan sebagai bawaan CD beberapa distro terkenal seperti Ubuntu dan Mandriva.

Alasan ketiga untuk membangun komunitas pengembang FOSS yang memiliki ikatan kuat dan bekerja sama secara berkesinambungan. Bahkan dalam pengembangan distro BlankOn, alasan ketiga ini dijadikan tujuan utama, yaitu membangun sistem dan infrastruktur pengembangan FOSS, dengan distro BlankOn sebagai salah satu produknya. BlankOn dibuat untuk perkantoran secara umum.

Alasan keempat untuk menghasilkan produk yang sangat fokus ke penggunaan tertentu, misalnya Briker untuk VoIP atau IP-PBX dan Zencafe untuk warnet atau internet cafe. Beberapa distro lain dikembangkan khusus untuk kebutuhan pemerintahan, misalnya distro MiGOS (Minang Goes Open Source) di Provinsi Sumatera Barat, Soerya di Kota Surabaya, dan Deep-ix di Kab Aceh Tengah. Ada pula distro khusus untuk administrasi pendidikan sekolah, misalnya Linux Biasawae dengan aplikasi Sisfokol terpasang secara default.

Nama-nama distro Linux itu hanya sebagian dari banyak distro Linux dan karya software Indonesia lainnya. 

6 comments:

sejarah sistem operasi linux said...

keren, maju terus FOSS.

rdnomercy said...

sekedar sharing, mas Rus... saya penikmat linux sejak redhat 6 dan saya sudah mencoba semua distro anak bangsa yg memang sangat bagus dan berguna disesuaikan dengan kondisi user lokal kita... namun sampai saat ini saya melihat distro lokal hanya merupakan lipstick, maksudnya (seperti distro lain) yg berubah hanya permukaannya saja, bajunya + kebutuhan aplikasi... kenapa tidak membangun os linux dari awal (build from scratch), padahal saya yakin kita mampu akan hal ini... satu lagi, kenapa variasi/distro lokal hanya diturunkan dari distro-distro besar saja? yang kebetulan memiliki spesifikasi hardware yg cukup tinggi, padahal (mungkin) ada baiknya distro lokal juga memperhatikan para user lokal yang masih banyak memiliki komputer dengan hardware terbatas... saya belum mengetahui apakah ada distro lokal yang dapat dijalankan pada hardware rendah misalnya proc 486 atau celeron dengan memory 256mb atau kurang namun memiliki fitur, fungsi dan juga aplikasi yang setara dengan distro besar... beberapa teman di luar banyak memikirkan untuk build linux yg efisien baik dari sisi os itu sendiri, hardware, maupun nantinya ke biaya...

Renga Haka said...

Setuju dengan mas rdnomercy. Saya dan teman-teman malah sudah dari jaman redhat 5.0 dan slackware, sudah begitu akrab dengan linux. Di komunitas kami bahkan sudah cukup membumi pemakaian linux untuk sehari-hari.
Saya dukung niatnya dan jika memang perlu diwujudkan bersama. Thanks

Aditya Darmawan said...

buat pak rdnomercy: saya sudah coba blankon di beberapa spesifikasi, termasuk yang spesifikasi rendah (meskipun nggak rendah banget), dan ternyata lancar jaya. Malah performnya lebih baik dari Ubuntu.

Memang sih saya nggak tahu apakah bisa digunakan untuk komputer spesifikasi rendah banget (yang memorynya cuma 64 MB) tapi kan dah JARANG banget komputer semacam itu. Masak sih sebuah distro lokal anak bangsa dikatakan "nggak berhasil" hanya karena tidak bisa mengakomodir kebutuhan minoritas.

sudi hasan said...

wah memang linux harus di masyarakatkan ya supaya banyak yang memakai gratisan

belajar linux ubuntu

Hermansyah Handya Pranata said...

saya setuju dengan mas rdnomercy...
rasanya ada yang kurang dibalik kreatifitas anak2 bangsa yang mengembangkan linux lokal. sejauh saya perhatikan memang tampak dari luarnya saja..meskipun saya belum pernah mencoba satu pun distro lokal, tapi hanya melihat dari layout dasarnya,logo,dan hal2 kecilnya itu seperti terbayang2 oleh distro luar yang sudah besar :D

after all...semoga para pengembang linux tanah air lebih terbuka lagi akan hal ini...

cheers!
salam penguin :)