Monday, January 17, 2011

Desktop Publishing antara Berbohong dan Mencuri

Desktop Publishing antara Berbohong dan Mencuri ...

Ide menulis ini mencuat pada saat saya mengedit buku tentang Desktop Publishing dengan Free/Open Source Software, setelah beberapa saat sebelumnya mendengar berita tentang kebohongan. Tulisan ini tidak ada hubungan dengan politik dan kenegaraan, tapi berhubungan dengan karya cipta buku yang menggunakan komputer untuk menulis, membuat gambar, mengedit, melayout, dan "kebohongan" yang mungkin dilakukan oleh teman "maya" saya bernama Layouter, nama yang keren sesuai dengan profesinya. :-)

Layouter mendapatkan order untuk melayout dan mencetak sebuah buku. Pemesannya meminta agar Layouter membuat desain dan tata letak buku itu dengan program CorelDraw, Photoshop, dan InDesign sebagai Desktop Publishing, lalu menyerahkan hasil cetak dengan menyertakan file dalam format PDF. Layouter menyanggupi dengan syarat boleh membuat buku itu menggunakan Inkscape, Gimp, dan Scribus. Alasannya, keuntungan usaha Layouter dalam setahun tidak cukup untuk membeli tiga software pertama plus sistem operasi Windows-nya. Layouter sudah punya komputer dengan sistem operasi Linux BlankOn Sajadah yang berisi Inkscape, Gimp, dan Scribus, tanpa biaya lisensi.

Kata pemesan, "Tidak bisa, karena dalam dokumen pengadaan menyebutkan harus menggunakan tiga software pertama itu."

Layouter sempat bingung antara harus mencuri lisensi software atau berbohong dengan menggunakan software lain. Setelah merenung cukup lama dan memohon petunjuk kepada Tuhan, teman saya menyanggupi untuk mengedit, melayout, dan mencetak buku itu, lalu menyerahkan hasil cetaknya sesuai keinginan pemesan, lengkap dengan PDF-nya. Pemesan menerima dengan senang, karena hasilnya sesuai harapan. Tapi pemesan tidak tahu bahwa buku itu tidak dibuat dengan software sesuai permintaannya.

Bagaimana menurut Anda, mendukung teman saya itu "berbohong" atau mencuri?

Kisah ini dapat dijadikan pelajaran untuk bidang-bidang kerja lain, termasuk pendidikan. Apakah para pemimpin, kepala sekolah, dan guru akan tetap mencuri? Atau "berbohong" (dalam tanda petik, karena sebenarnya tidak berbohong) dengan mengajarkan yang tidak sesuai silabus tapi hasilnya sesuai kurikulum?

Maaf, ini tidak ada hubungan dengan "huru-hara" 18 kebohongan di dunia lain. :-)

8 comments:

Kibot Rusak said...

ya kalo bisa, segalanya harus jujur Pak... ;)

retnet said...

Artikelnya sangat menyentuh pak, saya pribadi sangat mendukung penggunaan software open source daripada harus mencuri lisensi.

hasannuh said...

waduh... jadi bingung komentarnya juga pak, berbohong dosa - mencuri juga dosa ... :(

Rusmanto said...

Ini pilihan yang sulit, tapi sering ditemui dalam berbagai bentuk. Idealnya jujur. Tapi dalam banyak kasus, misalnya di sekolah, tidak ada pilihan selain dua itu, "berbohong" dalam pengertian mengubah silabus, atau "mencuri" agar sesuai silabus. Kurikulum sekolah (KTSP) tidak menyebut merek, bisa pakai mana saja.

arie said...

saya juga dilema mikirnya ni pak rus:)

mungkin solusinya, si layouter harus bisa menjelaskan bahwa hasil kerja dengan menggunakan software open source sama kualitasnya dengan menggunakan software berbayar (kualitas hasilnya bisa dijamin)

jika seandainya si pemesan masih bersikeras,mungkin lbh baik membatalkan order, kl sudah disepakati dari awal, ya mau tidak mau si layouter harus membeli software berbayar tsb.. (ini kesalahan layouter krn tidak teliti membuat dokumen perjanjian:)

Mife said...

ya betul sekali pak?. saya mendukung pemikiran2 bapak berkait foss. memang perlu gerakan opensource/foss secara revolusioner. tentunya harus dimulai dari kantor2 institusi pusat (dari istana negara s.d kantor RT). dengan foss, maka secara kultural dan ekonomis kita telah merdeka tak tergantung sama washington (AS). inilah kira2 citaaa2 bung karno senenarnya jika dipersepsikan secara IT. "BERDIKARI". Anak Indonesia sebenarnya cerdas-cerdas melebihi bilget. cuma pemimpin2 kita mempraktikan pembodohan2. jadi cape deh :)

BEC said...

Berlebihan, itu mah..
Setahu saya dalam proses pengadaan tidak boleh menyebut merk, Pak Rus.

Ada-ada saja si pemesannya.. wajib sertifikasi PBJ ulang tuh.

Utk layouter: Saluuttt

ERSIPIT said...

Dilematis ya Pak - Pak Rus apa kabar? Saya Erry AP