Tuesday, January 25, 2011

Mengubah Warnet Jadi Training dan Testing Center

Mengubah/Melengkapi Warnet Jadi Training dan Testing Center... Sebuah Ide Gila...

Sudah lama saya menerima kabar yang kurang baik dari teman-teman pemilik warnet. Sejak lebih dari satu tahun terakhir, omset warnet menurun tajam, bahkan beberapa warnet tutup karena tidak layak lagi untuk mencari makan, alias merugi. Di saat bersamaan saya baca dan lihat berita menyedihkan, banyak penggangguran tapi banyak lowongan kerja tak terisi. Kontradiktif.

Solusinya, beberapa bulan saya menggali ide untuk memanfaatkan warnet. Beberapa ide sudah dijalankan teman-teman, antara lain mengubah warnet sebagai usaha desain grafis, jual-beli komputer, perbaikan komputer, dukungan teknis LAN dan wireless LAN, jasa pengetikan skripsi yang kadang tidak hanya mengetik, dan lain-lain. Tapi satu ide yang saya belum lihat digarap serius, yakni tempat pelatihan komputer yang bersertifikasi. Istilah asingnya (bukan latah pakai istilah asing), Training and Testing Center.

Masalahnya, selama ini pelatihan yang bersertifikasi selalu identik dengan biaya mahal dan rumit menjalankannya. Mahal karena tingginya biaya lisensi software, biaya lisensi pelatihan, dan biaya sertifikasi lulusan. Rumit karena harus punya badan usaha (PT atau Yayasan) dan harus izin ke pemerintah (dinas tenaga kerja dan atau pendidikan). Bandingkan itu semua dengan umumnya warnet.

Ide gilanya, ada lembaga training yang sudah pengalaman bertindak sebagai penjamin mutu (misal LP3T-NF), ada lembaga sertifikasi untuk soal-soal dan sistem ujiannya (misal YPLI-BlankOn), ada yang menjalankan sistem pengajaran (pengelola warnet), dan ada yang diajar (pelanggan warnet: pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum). Semua software yang digunakan harus berlisensi FOSS atau "gratis" (tanpa biaya lisensi), semua modul berlisensi Open Content atau Creative Commons (tanpa biaya lisensi), dan sistem pelatihan serta ujian "belisensi" bagi hasil. Pelatihan dan ujian dapat berbasis online dengan tetap menjaga kejujuran.

Targetnya, akan menghasilkan banyak SDM kompeten, yang saat ini dan ke depan sangat dibutuhkan dunia kerja, antara lain:
  • Sistem operasi Linux/Unix (tanpa buta Windows karena ada versi demo atau trialnya)
  • Infrastruktur jaringan komputer (Bind, Postfix, Apache, Samba, Squid, dll.)
  • Desain grafis dan multimedia (Gimp, Inkscape, Scribus, Blender, Kino, Audacity, qCAD, FreeCAD, dll.)
  • Pemrograman yang paling populer di dunia web dan mobile (PHP, Java, dll.)
  • Database yang tidak diragukan lagi manfaatnya (MySQL, PostgreSQL, dll.)
  • Aplikasi Perkantoran yang sesuai ISO dan SNI (OpenOffice.org/LibreOffice, dll.)

Pertanyaannya, adakah di antara Anda yang berminat menjalankan ide gila ini? Kalau ada, mari kita berjuang bersama untuk mengurangi pengangguran dan mengisi lowongan kerja. Saya percaya rezeki akan mengalir dari arah yang tidak diduga. :-)

Catatan: Tawaran ide ini tidak hanya untuk warnet.

24 comments:

Fitra Aditya said...

Ide yang menarik pak... Apalagi jika tergetnya mahasiswa dan lokasinya berada di sekitar kampus...

Fauluq said...

Ide yang sesungguhnya luar biasa.
PR kemudia yang timbul adalah, bukankah sang trainer juga harus memiliki sertifikasi atau kompetensi untuk mendidik/melatih? Dimana dia bisa mendapatkan itu? Kemudian, sepertinya referensi Linux/FOSS berbahasa Indonesia masih minim, terutama program aplikasinya. Adakah saran untuk memperolehnya?

anbi said...

pak rus, idenya memang yahud

Rusmanto said...

Karena ini masih ide gila, maka untuk jadi ide "waras" harus memperhatikan beberapa hal yang penting berikut ini:
- Sistem jaminan kualitas pengajaran (termasuk standar kompetensi pengajar).
- Sistem jaminan kualitas sertifikasi agar peserta tidak curang, dan soal-soal bermutu tinggi (efektivitas dan reliabilitasnya).
- Dan standar prosedur operasional (SOP) yang lain seperti ketertiban
administrasi dan keuangan.

Sebagai gambaran status di Indonesia saat ini:
- Semua modul pelatihan program itu sudah ada versi Indonesianya tapi belum semua open content.
- Standar sistem pengajaran sudah ada, juga masih belum semua open content.
- Sertifikasi sudah ada, meskipun belum untuk semua program.

Kalau setuju, kita bisa mulai dari yang kita bisa, naik bertahap, misal dari Linux dan OpenOffice yang sudah tersedia bebas (open content) modulnya, banyak yang bisa menjadi pengajar, dan tersedia sertifikasinya.

istana media said...

mari kita mulai dari sekarang..... saya udah buka Training/Private OpenOffice..... tapi baru satu dua orang yang mau diajak.....

aji said...

Ide gila, dulu juga pernah kursus komputer privat, 1 bln paling tidak ada 1 orang. kerena Istri marah2 kalo kasih kursus ke orang karena terlalu murah, dapat yg mahal ternyata masih marah. akhirnya pensiun deh kursus privatnya.

willy merdiansyah said...

Jika saya ada di depok, maka saya akan langsung ke tempat bapak dan membicarakan rencana ke depan dan segera merealisasikannya.

sayang saya di malang.
dan bisnis warnet di malang masih berjalan dengan baik, dan terus bertambah warnet2 lainnya.

GiFos said...

Menarik pak, bisa dijelaskan lebih lanjut step by step-nya? :)...

sigitkputra said...

ide cerdas nih pak, saya juga ikutan tertarik.... perlu penjabaran lebih lanjut... misalkan berkenaan dengan kualitas pengajar (sudah sedikit dijelaskan), biaya-biaya, estimasi pendapatan, dan yang paling penting perkiraan potensi/peluang ini disekitar masyarakat seperti apa?
thanks

Rusmanto said...

Beberapa kemungkinan biaya operasioanl:
- Biaya penggunaan warnet: misal 3.000,- per jam per pc.
- Pemasukan: bervariasi sesuai tingkat kesulitan, dan sesuai bentuk pengajaran. Misal utk materi Office dengan pengajaran online Rp 10.000 per jam. Kalau pengajaran offline (ada instruktur) bisa bervariasi mulai dari 20.000 per jam hingga 100.000 per jam yang perlu dibahas lebih lanjut.
- Biaya ujian mulai dari 50.000 per ujian lalu dijual mulai dari 60.000 per ujian.
- Potensinya pasar: lulusan SLTA, mahasiswa, guru, dosen, karyawan lainnya yg ingin menambah skill dan pengakuannya (sertifikasi).

Itu semua masih hitungan kasar, perlu diskusi lebih lanjut sesuai dengan target pasar masing-masing warnet / tempat pelatihan.

Rusmanto said...

Untuk sistem kelas (ada pengajar offline), harus lebih dulu diadakan TOT (Training of Trainer), agar standar pengajaran terjaga secara kuantitas (target kurikulum) dan kualitas (mutu pengajaran dan kemampuan/kelulusan peserta).

Yellowhat89 said...

yang susah itu standarisasi pengajarnya Pak.
kapan hari saya sudah pernah email pak Rus mengenai bagaimana mendapatkan pengakuan untuk pengajar (paling tidak lokal lah, kalau LPI mungkin masih agak susah Pak), kalau kami siap-siap aja Pak, tapi kalau ditanyai standarisasi pengajarnya gimana dan buktinya apa, susah kan.

Rusmanto said...

Untuk membuat standar pengajar, kami belajar dari LPI, kebetulan 2 pengajar part time kami sudah lulus LPIC-2, dan salah satunya lulus sertifikasi pengajar LPI. Yaitu:
1. Lulus materi yang akan diajarkan.
2. Lulus teknik mengajar, termasuk ada ujian mengajar yg kami sebut micro-teaching.
3. Wajib magang jadi asisten sebelum mengajar sendiri, dengan dinilai oleh pembimbing dan peserta lewat kuesioner.
Memang repot dan mahal kalau hanya ingin menghasilkan satu atau dua pengajar seperti yg selama ini kami lakukan. Maka muncul ide gila ini agar banyak calon pengajar yang ikut proses 1-2-3 di atas shg biayanya murah.

Yellowhat89 said...

solusi yang baik dan benar memang begitu Pak.
Nah, berarti Pak Rus sudah punya kan standart untuk mencetak Trainer? Kalau sudah, kapan dan dimana bisa diikuti?

Rusmanto said...

@Yellowhat89, standar pengajaran telah dijalankan cukup lama secara internal di LP3T-NF. Ide gila ini untuk membuat seperti itu secara masal, sehingga murah dan punya efek bola salju peningkatan jumlah dan mutu SDM TIK di Indonesia.

Sapto said...

Mudah-mudahan "ide gila" ini bisa segera di-"waras"-kan .... :)
I wonder if someone far away can get involved ...

Rian said...

Idenya really innovative...sy pingin mencoba kebutulan warnet kami pada bangunan 2 lantai, yg buat warnet/game ada di lantai bawah. lantai atas masih kosong.
Yg jadi masalah kami saya bukan orang IT, cuma saya hobby businnes.
Mohon tips nya buat kami, untuk memulainya, mengoperasikan, and produktif.

Thanks tips nya Pak Rusmanto

Riezky Maulana said...

inovasi tingkat tinggi niy pak :)

kira2 bagaimana ya kalau berniat untuk menjajakinya dengan serius?

saat ini sih warnet kami masih ramai, yah semoga ramai terus, tapi untuk selingan mungkin ide bapak boleh diuji coba.

mohon pencerahannya :D

Rusmanto said...

Untuk merealisasikan ide ini, saya sedang diskusi dg teman-teman yang ahli di bidang pembuatan modul, penyusunan SOP, teknik pengajaran, pembuatan soal, dan pengembang sistem online training dan testing. Beberapa alternatif yg dapat dijalankan segera mulai dari yang paling sederhana adalah:
1. Pelatihan online atau computer based training dg peserta harus datang ke warnet/training-center.
2. Ujian online dengan peserta harus datang ke warnet/testing-center.
3. Pelatihan offline (sistem kelas), dengan lebih dulu ada TOT (Training of Trainers).

CATATAN:
No 1 dan 2 bisa diikuti hampir semua warnet dg biaya awal sangat rendah. Sistem online ini yg sedang dikembangkan (butuh waktu satu hingga beberapa bulan).
No 3 hanya untuk warnet yang siap dg pengajar (tetap atau paruh waktu) yg telah lulus TOT. Kelebihan no 3 ini bisa memberi jasa ke instansi swasta dan pemerintah dalam bentuk inhouse training.

Mohon doa dan masukan, setelah siap secara teknis maupun non teknis, kami akan umumkan luas. :-)

unggulcenter said...

Mungkin ada juga yang bisa memberikan contoh model pembelajaran seperti ini yang "berhasil" di luar negeri?

Saya ada contoh yang agak mirip, maaf kalau "mirip"nya ternyata jauh sekali : misalnya http://www.e-learningcenter.com/special.htm

yang juga ada free courses (marketing temptation) misal di http://www.e-learningcenter.com/freecourses.htm

Saya sudah coba beberapa free modulnya, yang umum dan softskill, lumayan juga. Tapi blum pernah coba yang IT (padahal disini problemnya)

him2him said...

ijin nyimak pak...
like this banget...

saya ada warnet dan sedang merancang utk d kembangkan jadi olah data servis komputer dan pelatihan internet marketing...

Rusmanto said...

Ada teman yg tanya via email, apakah perlu ruangan khusus?

Ada beberapa jenis training center yg saya usulkan:

1. Offline (ada pengajar) dg sistem kelas konvensional. Ini membutuhkan ruang yg memungkinkan pengajar melihat peserta dan peserta melihat pengajar langsung.
- Ruang warnet yang masih tertutup harus diubah.

2. Offline semi online, pengajar tidak selalu berhadapan, karena materi ada di komputer, atau CBT (Computer Based Training), tapi tetap ada pengajar utk membimbing
jika ada pertanyaan.
- Ruang warnet tidak harus diubah.

3. Online dengan penugasan atau latihan setiap training. Pengajar tidak diperlukan di warnet, tapi ada pengajar remote melalui sistem e-learning. Peserta tetap datang, tidak hanya dari rumah masing-masing, karena ada latihan setiap belajar.
- Ruang warnet tidak harus diubah.

Fauzi said...

Salam kenal Pak Rus,
Sangat mendukung sekali idenya.
Kebetulan saya juga ada warnet linux
Meskipun tinggal di kampung, kami sangat tertarik dengan ide ini. Semoga cepat direalisasikan Pak.

QuyQuQuy said...

hohoho,,bener bgt,,lebih menguntungkan kek nya,,,^^

bébé