Monday, April 30, 2007

Beberapa Mitos seputar Linux/FOSS

Banyak pendapat atau pemikiran yang tidak benar tentang Linux dan software bebas/open source lainnya. Berikut ini 6 di antaranya. Mohon koreksi jika saya salah.

1. Free/Open Source berarti Gratis dan Tidak ada Bisnis


Free dalam istilah Free Software berarti freedom (bebas atau merdeka). Yang pasti gratis (no fee) dalam dunia Open Source adalah lisensinya. Artinya, tidak perlu biaya lisensi untuk mendapatkan produk Free/Open Source Software (FOSS). Seandainya MS Windows dan MS Office gratis, tetap tidak disebut free/open source software kalau tidak bebas digunakan, dipelajari, dikembangkan ulang, dan disebarluaskan.

Bisnis Open Source adalah bisnis jasa atau solusi, bukan jualan lisensi. Pembuatan software khusus, penyediaan jasa pelatihan, dan dukungan teknis, merupakan contoh bisnis di dunia Open Source. Pengguna juga tetap perlu biaya untuk download, instalasi, konfigurasi, pelatihan, dan perbaikan agar sesuai kebutuhannya, tapi semua itu tanpa harus membayar izin atau lisensi kepada vendor atau pembuat awalnya. Itulah makna free dalam Open Source, yakni siapa pun dapat bisnis bersama Open Source.


2. Tidak ada Service/Support untuk Free/Open Source Software


Ini juga contoh kesalahpahaman terhadap Open Source. Pengguna produk Open Source seperti Linux dan OpenOffice dapat meminta layanan atau dukungan teknis kepada perusahaan mana saja. Biaya service/support Open Source tidak berbeda jauh dengan service/support dari software Proprietary. Kalau pun biaya service/support Open Source sedikit lebih mahal daripada produk proprietary, biasanya disebabkan jumlah SDM yang menguasai Open Source saat ini masih sedikit. Makin banyak penyedia (Supplier) akan makin murah harganya.

Mirip dengan Mitos 1, boleh ada biaya untuk Service/Support, sehingga ada bisnis di dalamnya. Tapi tidak ada biaya lisensi untuk mendapatkan service/support. Penyedia jasa ini tidak harus membayar lisensi kepada pemilik merek, misalnya Linus Torvalds (pemegang hak cipta Linux) dan Sun Microsystems (pemegang hak cipta OpenOffice).

Mitos ini juga disebabkan salah paham, bahwa penyedia support adalah pembuat program. Misalnya, MS pasti mensupport Anda yang menggunakan produk MS. Padahal belum tentu, Anda tidak akan disupport kalau Anda tidak membayar (lisensi atau support)-nya. Anda tidak akan dapat update selama Anda tidak membayar lisensi dan melakukan registrasi. Kecuali Anda membajak atau mencurinya, yang jelas melanggar hukum dan moral.

Di dunia Open Source, penyedia support bisa siapa saja, karena tidak hanya pembuatnya yang menguasai produk yang kodenya terbuka. Bahkan tersedia support Open Source yang sangat murah, seperti melalui mailing list dan web, yang tentu saja belum pasti ada jaminan secara profesional atau purna jual. Untuk mendapatkan support dengan jaminan yang jelas, sewajarnya Anda membayar penyedia support.

3. Pengembangan Aplikasi Free/Open Source Susah

Salah satu penyebab terjadinya mitos ini adalah kebiasaan. Pembuat program yang sudah biasa dengan produk proprietary akan mencari produk itu di Linux/Open Source. Misalnya, pengembang software yang terampil menggunakan Visual Basic (VB) akan mencari VB di Linux. Saat ini jelas tidak ada, karena MS sebagai pembuat VB tidak mendukung Linux. Padahal telah tersedia Gambas dan Phoenix sebagai pengganti Visual Basic, atau MONO sebagai pengganti .NET.

4. Free/Open Source Software tidak Aman

Ini salah paham, bahwa kode yang tersedia di Internet membuat banyak orang mudah menjebol (cracking) software. Salah, karena untuk menjebol software tidak harus membutuhkan source code. Sebaliknya, source code yang tersedia memungkinkan banyak orang untuk mengetahui kelemahannya dan segera membuat perbaikannya. Keamanan sistem komputer tidak ditentukan oleh open atau tidaknya program, tapi lebih ke bagaimana penjagaan/perawatan oleh admin-nya.

Setiap ditemukan kelemahan suatu sistem Open Source, dalam waktu singkat akan tersedia perbaikannya (update atau patch). Sebaliknya, softwate proprietary yang ditemukan kelemahannya, hanya dapat mengharapkan vendor pembuat untuk memperbaikinya, dan itu bisa memakan waktu beberapa hari hingga beberapa minggu.

5. Tidak ada Training untuk Free/Open Source Software

Lagi-lagi ini salah dari sisi pemahaman, bahwa hanya vendor software yang berhak menyediakan training. Seperti support, lisensi Open Source mengizinkan siapa saja menyediakan jasa training.

Saat ini masih banyak lembaga pendidikan yang hanya meyediakan training proprietary, termasuk perguruan tinggi. Tapi perkembangan terakhir menunjukkan banyak lembaga pendidikan mulai meyediakan jasa training software Open Source. Kelemahan dari sisi ketersediaan SDM ini sekaligus menjadi peluang bangsa Indonesia untuk belajar dan mengambil bisnisnya, termasuk koperasi.

6. Free/Open Source Software tidak pernah Matang

Ini benar untuk beberapa hal, tapi salah untuk banyak hal lainnya. Contoh software Open Source yang sudah sangat matang adalah Apache (web server yang paling banyak digunakan di dunia), kernel Linux, Database MySQL dan PostgreSQL, mail server Sendmail/Postfix/qmail/exim, Mozilla/Firefox, OpenOffice, dan lain-lain. Memang keterbukaan kode memungkinkan banyak orang mengembangkan dan merilis karyanya meskipun belum matang. Namun, keterbukaan pula yang menyebabkan orang lain bisa memperbaiki kekurangannya sehingga menjadi cepat matang.

3 comments:

Budi, Baliwae said...

saya setuju dengan pendapat pak rus diatas. terima kasih untuk artikel diatas pak. setidaknya bisa membuka pikiran kalau mitos2 itu tidak benar.

junaidi karo karo kacaribu said...

linux tetep is the best untuk kantong

mahasiswa teladan said...

saya mahasiswa dari Jurusan Informatika
Artikel yang sangat menarik, bisa buat referensi ini ..
terimakasih ya infonya :)